Indahnya Kebersamaan dalam Lokakarya Pengelolaan PSBG

Hari Rabu, 27 Agustus 2008, Bus Damri yang membawa rombongan peserta sebanyak 48 orang terdiri dari Master Teacher Trainer (MTT),Pengurus Pusat Sumber Belajar Gugus(PSBG) dan Kepala Sekolah inti Kohort 2 tiba di PSBG “Mabbulosibatang” Gugus 1 Pangkajene Kabupaten Pangkep yang berada dalam kompleks SDN 28 Tumampua II, terletak kurang lebih 45 km arah utara  Kota Makassar.

Satu persatu peserta memasuki ruang PSBG disambut penuh sukacita oleh tim fasilitator DBE 2 Jakarta (Ibu Pudji Agustine dan Bapak Rendy Djauhari) bersama Bapak A.Djabier dari DBE 2 Sul-Sel. Tepat pukul 08.30 wita, lokakarya dibuka oleh Bapak H.Mustari.S (Wakil Kepala Dinas Pendidikan Kab.Pangkep).

Wakil Kepala Dinas kabupaten Pangkep  menyatakan bahwa keberadaan DBE 2 telah memberikan konstribusi yang besar terhadap kemajuan dibidang pendidikan di daerahnya. Tidak ada alasan dan sanggahan  untuk tidak memberikan apresiasi positif terhadap program yang dilaksanakan,apatahlagi bantuan yang diberikan selain bantuan teknis, juga diberikan hibah, yang bukan pinjaman. Sepatutnya insan pendidik dan masyarakat mensyukuri nikmat ini dengan menjaga, mengawal serta melanjutkan program DBE 2 pasca berakhirnya program.

Rasdiana Rajab, salah seorang peserta dari PSBG “Karya Mandiri Guru” Kota Makassar mengungkapkan kesannya mengikuti  lokakarya ini bahwa mendapat segudang ilmu yang selama ini belum pernah diperoleh. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Supriadi salah seorang peserta dari PSBG “Kreatif” kabupaten Sidrap,selain menimbah ilmu sebanyak-banyaknya juga mengajak peserta membuka cakrawala berpikir dan  jendela dunia untuk menjelajah mencari ilmu di dunia maya (internet) dan mengembangkannya sebagai bahan ajar berbasis ICT (Information dan Comunication Technology).

Lokakarya pengelolaan PSBG kali ini diwarnai dengan canda dan tawa,sharing pengalaman dan pengetahuan,diskusi dan kerja kelompok, energizer/games,dialog dan curah pendapat terbalut dengan manis dalam  indahnya kebersamaan satu keluarga besar DBE 2. Lokakarya   berlangsung  sampai 29 Agustus 2008 di dua lokasi PSBG  kabupaten Pangkep dan Hotel Pakarena Transit II kabupaten Maros,

Indahnya kebersamaan mengelola PSBG

Indahnya kebersamaan mengelola PSBG

dengan hasil yang diharapkan:

  1. Program kerja yang lebih jelas,komprehensif dan realistis.
  2. Struktur organisasi dan kepengurusan PSBG yang lebih memadai.
  3. Pengetahuan dan keterampilan mengelola PSBG yang lebih baik dan benar.
  4. Draft aplikasi hibah tahap 3 yang sudah siap untuk diproses lebih lanjut,dan
  5. Keterampilan dasar dalam pembuatan poster,selebaran, dan berita kegiatan PSBG.

Sebagai catatan akhir dari acara penutupan telah dibangun komitmen bersama peserta yang terdiri pengurus PSBG,Kepala Sekolah Inti dan MTT serta Tim DBE 2 Sulawesi Selatan dan Jakarta untuk terus berpacu mengelola PSBG secara mandiri,profesional dan akuntabel agar dapat diminati dan dinikmati oleh seluruh pengguna,stakeholder maupun masyarakat umum menimba ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab Ilmu itu sesungguhnya tiada tepinya.

 Mari Kita nantikan  wujud nyatanya.

Iklan

Membuat Kunjungan Sekolah Produktif

Menindaklanjuti pelatihan KKKS dan KKG II Paket adaptasi Sains, Tim Bantuan Profesional sekolah/Pendampingan akan melakukan kunjungan sekolah dalam rangka melakukan review sejawat (peer review) pada bulan Agustus sampai September 2008 untuk melakukan  pengkajian sejawat, dimana guru dan kepala sekolah  akan menyerahkan dokumen perangkat pembelajaran termasuk alat peraga atau media, dan hasil kerja Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk dinilai berdasarkan  panduan yang dikembangkan oleh Tim. Satu tim yang terdiri atas 2-3 orang yang terdiri dari Tim Universitas, Distric Learning Coordinator (DLC), Master Teacher Trainer (MTT) atau Pemandu Bidang Studi  (PBS) akan mengunjungi sekolah-sekolah binaan.

Istilah Pakem bukan saja dikenal dalam pembelajaran yang dlakukan guru bersama siswa tetapi dikenal pula dalam Bantuan Profesional Sekolah (BPS) atau Pendampingan II Paket Adaptasi Sains yang menandai berakhirnya Paket ini di seluruh sekolah binaan DBE 2 Sulawesi Selatan.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan agar kunjungan sekolah benar-benar produktif yang bernuansa  Pendampingan yang aktif,kreatif,efektif dan menyenangkan (Pakem). Beberapa tips yang dapat  dilakukan, yaitu:

  1. Kunjungan sekolah dijadwalkan setidaknya dua minggu sebelumnya agar tim dari sekolah yang akan dikunjungi memiliki waktu untuk persiapan.
  2. Informasikan kepada para guru dan kepala sekolah bahwa mereka sudah harus menyiapkan dokumen (perangkat pembelajaran) mereka sebelum berkunjung ke sekolah binaan.
  3. Berikan motivasi kepada rekan guru dan kepala sekolah membuat perangkat pembelajaran dan menyelesaikan rencana tindak lanjut sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan dapat membantu mereka meningkatkan praktik pengajaran mereka dan beberapa hasil karya guru dapat diserahkan pada saat sertifikasi guru oleh Diknas.
  4. Agar kegiatan Pendampingan benar-benar menjadi aktif,kreatif,efektif dan menyenangkan, lakukan dengan setulus hati, kecerdasan emosional harus tetap terjaga,gunakan prinsip-prinsip belajar orang dewasa.
  5. Jangan terlalu menggurui apalagi menggunakan kalimat atau umpatan-umpatan yang tidak pada tempatnya,sehingga guru terlihat grogi.
  6. Ciptakan kebersamaan dan kekeluargaan, tetap beri motivasi kepada mereka,ungkapkan hal-hal positif,jangan membuat guru seakan terbebani karena tugas-tugas  dalam pendampingan.
  7. Jadilah rekan sejawat atau mitra guru dan Kepala Sekolah yang dicintai, buat mereka senang dan tulus dengan kegiatan pendampingan, beri penghargaan dan ucapkan kalimat-kalimat yang syahdu dan menyentuh hati tetapi tidak menyinggung perasaan dan pikiran, hilangkan sifat egoisme dan seakan serba tahu, ajak mereka belajar bersama dan memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi)masing-masing.
  8. Berikan penguatan dan penegasan pada hal-hal yang urgent.

Pendampingan atau kunjungan sekolah produktif karena mereka  bertahap mengubah pola pikir dan tindakan secara sadar tanpa tekanan, sehingga program DBE 2 dapat dicintai, dikenang dan berkelanjutan dari generasi ke generasi.

Kunjungan sekolah yang produktif di salah satu sekolah binaan DBE2 Sul-Sel

Kunjungan sekolah yang produktif di salah satu sekolah binaan DBE2 Sul-Sel

Indonesia International Work Camp (IIWC) berbagi pengalaman dengan warga PSBG Dwarawati Blora

Foto Bareng Pengelola PSBG dengan anggota IIWC

Foto Bareng Pengelola PSBG dengan anggota IIWC

Sejak berdirinya PSBG pada bulan Januari yang lalu sampai sekarang sudah banyak manfaatnya bagi warga Gugus Abu Umar, khususnya para guru untuk meningkatkan profesionalismenya, dimana guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Sudah banyak kegiatan yang dilakukan oleh PSBG Dwarawati yaitu pelayanan pendidikan bagi guru, dan banyak pula penghargaan yang diperoleh PSBG Dwarawati, diantaranya adalah mendapatkan tropy juara pertama Program kerja terbaik dari DBE-2 Prop, juara 2 pembuatan APM dari DBE-2, dan sambutan yang baik dari para pejabat dan masyarakat ketika PSBG mengikuti stand Pameran pendidikan dalam rangka memperingati Hardiknas di GOR Pringgodani Blora.
Pada tanggal 9 Agustus yang lalu kegiatan KKG diisi dengan penularan pendidikan SD dari beberapa negara yaitu Korea, Jepang, Perancis, Thailand, AS, dan Australia. Kegiatan ini adalah kerjasama antara PSBG Dwarawati dengan IIWC (Indonesia International Work Camp) yaitu pertukaran pemuda dan pelajar Indonesia dengan luar negeri.
Dari IIWC yang mengisi kegiatan tersebut berasal Jepang, Korea dan Perancis. Tim dari IIWC berjumlah 7 orang yaitu 3 orang dari Jepang, 1 orang dari Korea, 1 orang dari Perancis dan 2 orang dari Unbra selaku penerjemah. Mereka berlima bercerita tentang pengalaman pendidikan ketika masih duduk di SD dan mengisi beberapa keterampilan untuk anak SD. Baca lebih lanjut

Berterimakasihlah kepada HAMBATAN

SUNARTO

SUNARTO

Mari kita amati gambar di atas? Apa yang ada di benak kita semua? Ya. Semua di antara kita pasti sepakat bahwa pertandingan sumo yang dilakukan tersebut tidak fair. Kita juga sudah dapat memprediksi dengan 99,9% benar bahwa hasil pertandingan nantinya akan dimenangkan oleh pesumo yang jauh lebih besar tersebut. Namun demikian apakah kita akan menghargai atas kemenangan yang dia dapatkan? Ahh.. sepertinya kita juga hanya akan memberikan senyuman kecut atas kemanangan yang dia raih itu dan dalam hati kita mengatakan,”semua orang juga bisa menang kalau lawannya anak kecil kaya gitu.” Apakah asosiasi olah raga sumo juga akan memberikan penghargaan kepadanya? Juga bisa kita tebak, asosiasi olah raga sumo juga mungkin tidak akan memberikan apresiasi apapun terhadap “si pemenang” dalam pertandingan itu. Asosiasi olah raga sumo juga harus berfikir tujuh kali untuk memberikan penghargaan terhadapnya, karena selain melecehkan lembaga nantinya juga akan membuat lembaga tersebut tidak akan dipercaya lagi oleh masyarakat.

Bagaimana perasaan bagi “si besar” yang menang itu? Andai saja saya yang menjadi pesumo besar tersebut, sepertinya tidak ada tempat yang tepat bagi saya untuk dapat membanggakan diri. Kemenangan yang saya raih dengan mudah tanpa Hambatan sedikitpun tentu bukan menunjukkan kehebatan saya. Saya juga akan sangat menyadari bahwa kemenangan yang saya peroleh dengan mengalahkan anak kecil tentu juga sesuatu yang akan dicibir oleh khalayak. Bahkan dimungkinkan hanya akan mendapatkan umpatan dari orang banyak, karena saya keji telah menyakiti anak kecil yang tentu saja tidak dapat melawan.

Sahabat.., dalam menjalan tugas di mana saja dan dalam posisi apa saja pasti kita akan mendapati hambatan . Hambatan bukan untuk dihindari, karena justru dengan menghindari hambatan kita akan mendapatkan hambatan -hambatan yang lain yang mungkin semakin sulit untuk dihadapi.

Kita pantas berterima HAMBATAN yang membuat kita menjadi kuat. Hambatan akan melatih kita untuk mengerahkan segala daya upaya yang ada pada diri kita untuk mengalahkannya. Mungkin kita akan menjadi makhluk yang lemah seperti bayi, jika kita tidak pernah mendapati hambatan dalam hidup ini. Kita juga tidak mungkin bisa berjalan kalau dulu kita tidak mendapati beratnya mengangkat badan, sulitnya menjaga keseimbangan dan berkali-kali jatuh bangun.

Hambatan juga membuat kita semakin cerdas. Kita akan memeras otak untuk menyelesaikan masalah setiap kali kita mandapatkan Hambatan . Kita akan mengatur strategi yang jitu agar hambatan yang didapati bisa teratasi. Kemampuan otak kita tidak akan mungkin bertambah, jika kita tidak pernah mendapati persoalan. Masih ingatkah kita saat sekolah? Waktu itu kita hampir setiap hari mendapati soal-soal yang diberikan oleh guru. Terkadang susah namun juga terkadang mudah. Apa yang kita rasakan? Kita gembira ketika mendapatkan soal yang mudah, namun sebenarnya kemampuan kita tidaklah bertambah. Kita juga merasakan susah ketika mendapati soal yang sulit, namun disadarikah bahwa dengan soal yang sulit justru kemampuan kita untuk berfikir menjadi bertambah?
Baca lebih lanjut

MANAGEMENT GENGSI

A. Pendahuluan
Ingatkah anda tayangan film Tai chi Master ? Film itu dibintangi oleh Jet Lee. Dalam film itu dikisahkan bahwa untuk mengalahkan sebuah kekuatan yang besar tidak bisa dilawan dengan kekuatan yang besar pula. Apalagi hanya dilawan dengan tenaga seadanya dan dengan teknik yang seadanya pula.
Dikisahkan dalam film Tai Chi Master bahwa melihat lawannya yang jauh lebih kuat dan lebih tinggi teknik kungfunya, maka Jet Lee mempelajari Jurus Tai Chi, yaitu jurus yang memanfaatkan tenaga lawan untuk melumpuhkan lawan itu sendiri. Misalnya saat lawan memukul tidak perlu dihadapi dengan pukulan juga atau tangkisan, namun cukup menarik tangan lawan yang digunakan untuk memukul tersebut. Dengan demikian tenaga yang dibutuhkan jauh lebih kecil tetapi menghasilkan efek yang sangat besar karena memanfaatkan tenaga lawan pada saat memukul. Justru tenaga yang kita gunakan adalah untuk menambah daya lontar tangan saat memukul. Saking kuatnya memukul ditambah gaya tarikan yang kita berikan hasilnya justru lawan terpelanting jatuh ke depan.
Kisah itu menginspirasi penulis untuk menulis buku ini. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita juga menjumpai banyak kesamaan dengan kisah Tai Chi Mater. Pada saat ini disaat pemerintah mencanangkan pendidikan gratis untuk untuk SD dan SLTP karena kondisi ekonomi rakyat yang masih memprihatinkan, di sisi lain beberapa sekolah muncul dengan mencanangkan SD maupun SMP TERPADU (maaf saya plesetkan menjadi akronim dari TERpaksa PAkai DUit). Beberapa sekolah swasta justru muncul dengan icon mahal dan berkelas. Tetapi anehnya semakin mahal suatu sekolah justru semakin diminati, bahkan menjadi rebutan. Kita mungkin juga sering melihat fenomena yang terjadi disekitar kita. Saat tukang sayur menjual dagangannya di lapak kaki lima tentu semua orang tahu bahwa dagangannya jauh lebih murah dibanding sayuran yang ada di supermarket. Namun kenapa sayuran yang ada di super market lebih diminati? Bahkan sering kita sendiri mengalami saat membeli sayuran di supermarket harga berapapun tanpa pikir panjang langsung kita bayar, namun saat membeli di tukang sayur seberapa murahnya dagangan yang mereka jual, kita pasti menawarnya.
Banyak hal di dunia ini yang menggambarkan penyimpangan dari sintesis umum. Logika mengatakan misalnya semakin murah harga barang yang dijual maka akan semakin laku dagangan tersebut. Berdasarkan contoh tersebut di atas, maka teori tersebut tidaklah selalu berlaku dalam situasi tertentu. Semakin menguntungkan suatu usaha mungkin semakin banyak diminati orang. Sintesis ini juga tidak selamanya benar. Ambil contoh dalam kasus menabung di bank. Mengapa orang yang menabung di BKK atau koperasi sangat terbatas? Padahal di situ lebih banyak memberikan keuntungan jika dilihat dari suku bunga tabungan. Sementara mengapa semakin hari semakin banyak nasabah BCA yang justru memberikan suku bunga yang relatif lebih kecil. Kenapa bisa demikian?

Gejala tersebut adalah sebagai akibat bertambahnya kesejahteraan manusia. Ketika kebutuhan primer sudah tercukupi, maka manusia cenderung akan mengejar kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatnya. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

sejalan dengan perkembangan zaman, ternyata pemenuhan kebutuhan tidak selalu berurutan dari yang terrendah sampai yang paling tinggi. Gejala baru menunjukkan semakin banyaknya masyarakat yang setelah kebutuhan fisik/ biologis terpenuhi, mereka cenderung untuk mencukupi kebutuhan yang ke 4 dan ke-5. Kabutuhan ke-4 dan ke-5 biasanya terintegrasi dalam satu sifat yang namanya HARGA DIRI atau GENGSI. Dengan demikian Gengsi saat ini sudah merupakan kebutuhan pokok yang ke-2 setelah kebutuhan pokok terpenuhi.

Gejala ini ditangkap dengan baik oleh para pengusaha untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Lihat saja ketika ketela goreng disajikan dalam piring siapa yang mau membeli? Namun ketika ketela goreng dikemas dan diberi nama Qtela disertai dengan iklan yang menarik 3 milyar bisa diperoleh dalam setiap bulannya. Begitu juga siapa yang mau membeli rokok dengan tembakau asli hasil tanaman sendiri dan dilinting sendiri? Bukankah kualitasnya sangat bagus (terutama bagi perokok)? Namun Kenapa mereka lebih suka membeli rokok Djarum Super, Gudang Garam atau merk terkenal lainnya? Jawabnya adalah GENGSI.

Apakah GENGSI dapat kita manfaatkan untuk mengelola dunia pendidikan. Jawabnya SANGAT BISA dan BANYAK CARA. Mulai dari cara yang paling elegan sampai dengan cara murah dapat kita lakukan untuk menumbuhkan HARGA DIRI (GENGSI) yang tinggi sehingga menguntungkan upaya kita dalam mengelola pendidikan. Contoh cara menumbuhkan GENGSI yang elegan bahkan mahal dalam mengelola pendidikan, misalnya dengan membangun sekolah yang mewah, berkualitas, disiplin tinggi dan mahal. Namun untuk menumbuhkan GENGSI masyarakat juga bisa dilakukan dengan cara memuji bahkan mengejek mereka. Tentu yang terakhir ini perlu teknik-teknik tertentu sehingga yang muncul bukanlah kemarahan, namun cukup pada level bagaimana mereka menunjukkan rasa harga dirinya.
Bagaimana teknik untuk menumbuhkan GENGSI pada orang lain, sehingga dengan GENGSI itu justru dapat memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap program yang telah kita tentukan ?
Anda Penasaran ?
(bersambung)

C. Harga Diri
D. Mengelola gengsi orang lain.
E. Bagaimana menyentuh gengsi seseorang
F. penutup

PSBG WADAH TENAGA PENDIDIK MENUJU PROFESIONALISME GURU

Salah satu PSBG di Cohort 2 yaitu PSBG SIPOHOLON LESTARI Kabupaten Tapanuli Utara

Salah satu PSBG di Cohort 2 yaitu PSBG SIPOHOLON LESTARI Kabupaten Tapanuli Utara

Oleh : Salmon Tambunan

(District Learning Coordinator Sibolga Kota _ Taput C2)

Sejak digulirkan Program DBE2 di 6 Provinsi di Indonesia, Pelatihan-pelatihan Pembelajaran Aktif, Kreatif , Efektif dan Menyenangkan atau lebih familiar dikenal dengan sebutan PAKEM sering dilatihkan kepada Kepala Sekolah, Pengawas, guru bahkan dilibatkan para komite sekolah di sekolah binaan DBE.

Pelatihan PAKEM jelas menambah wawasan para tenaga pendidik untuk memperkaya strategi pembelajaran mulai dari persiapan Administrasi Kelas yang terdiri dari daftar kelas, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Batas Pelajaran serta daftar nilai menunjukkan suatu perbaikan bagi guru-guru khususnya di sekolah-sekolah yang menjadi binaan DBE2. Para tenaga pendidik juga dilatihkan bagaimana merancang Manajemen kelas yang baik terdiri dari Pengelompokan Siswa, Penataan Pajangan, Portofolio siswa, Penataan Media serta manajemen kelompok di kelas masing-masing. Tetapi hal yang tak kalah pentingnya juga adalah Metoda Mengajar meliputi Penerapan Metoda mengajar, melibatkan keaktifan siswa, mobilitas guru, interaksi guru dan siswa serta pemanfaatan Media yang variatif sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tetapi kalau hanya dilatih tanpa ada implementasi di ruang pembelajaran semua yang diutarakan di atas akan kurang nilainya atau dapat disimpulkan akan sia-sialah tenaga, materi dan waktu yang diberikan untuk para tenaga pendidik ini.

Cukupkah kalau hanya pelatihan menuju profesionalisme seorang guru?? Pertanyaan ini jelas dijawab tidak cukup. Salah satu solusi yang ditawarkan DBE2 melalui programnya adalah PSBG ( Pusat Sumber Belajar Gugus) atau penulis sering anologikan sebagai bengkel kerjanya guru atau sebagai wadah menuju profesionalisme guru dan tenaga pendidik lainnya.

Selama 2 tahun program DBE2 pada Cohort 1 telah terbentuk 10 PSBG di Sumatera Utara dan 8 PSBG di cohort 2. Seiring dengan perjalanan waktu fungsi PSBG ini belum maksimal pemanfaatanya. Padahal didalamnya terdapat “butir-butir emas” yang akan berkilau jikalau digali dan dimanfaatkan untuk menuju guru yang profesional seperti yang diamanatkan di UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005.

Kita tahu dan bahkan sering kita dengar bahwa PSBG tidak hanya sekedar sebagai tempat pertemuan dan “semua tahu” bahwa PSBG bukanlah gudang atau laboratorium tetapi PSBG adalah tempat para guru, kepala sekolah serta tenaga kependidikan lainnya berinteraksi dengan berbagai sumber belajar untuk mengembangkan kreatifitas pembelajaran. PSBG juga merupakan unit pelayanan teknis pembelajaran yang mendukung peningkatan mutu pendidikan.

Menilik judul yang disampaikan penulis “PSBG WADAH TENAGA PENDIDIK MENUJU PROFESIONALISME GURU” tidaklah hanya sebagai slogan yang enak didengar. Tetapi apa yang diamanatkan PSBG merupakan jalan meningkatkan profesionalisme guru. Guru dan tenaga pendidik lainnya dapat mengadakan pelatihan KKG, KKKS, Pembuatan soal, Pelayanan ICT dan tersedianya sumber belajar yang memadai untuk dipergunakan. Kalau PSBG tidak dimanfaatkan secara maksimal maka hasil yang diharapkan juga tidak maksimal. Jika para tenaga pendidik yang ada di binaan DBE2 memanfaatkan dan menggunakan sumber belajar yang ada maka tidak muluk- muluk apa yang diutarakan di atas bahwa PSBG dapat menjadi wadah menuju profesionalisme seorang tenaga pendididik. Guru yang profesional pasti akan diperhatikan pemerintah untuk masa yang akan datang.

PSBG yang memiliki 4 fungsi sebagai pertemuan, pengembangan profesional , informasi dan produksi merupakan suatu sistem yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Jelas juga ada keterkaitan antara topik yang disampaikan dengan keempat fungsi PSBG di atas.

Pokok permasalahan yang sering diamati penulis adalah bagaimana memberdayakan ke empat fungsi di atas. Penulis berharap keempat fungsinya dapat berjalan sebagaimana mestinya.

PSBG juga mampu merubah karakter-karakter pendidik yang sulit untuk berubah karena faktor senioritas, serta peran serta masyarakat yang masih minim notabene karena ada BOS. (Bantuan Operasional Sekolah).

Penulis punya harapan apabila PSBG dikelola dengan baik maka guru-guru yang profesional akan tercipta nantinya.Semoga PSBG dapat mewujudkan pelopor-pelopor pendidik yang handal dan profesional demi anak bangsa yang menanti di depan mata. PSBG Abadi namamu, Lestari ilmumu, Pelita dalam kegelapan, di Silindung engkau ada. Janganlah engkau tumbuh di pagi hari namun layu di sore hari. Harumlah namamu bak sekumtum bunga yang sedang mekar.

TOT DALI BANGKALAN JAWA TIMUR SUKSES

 Pelatihan TOT Dali tingkat propinsi Jawa Timur dilaksanakan di PSBG (Pusat Sumber Belajar Gugus) Cakraningkrat Bangkalan, tepatnya di SDN Kemayoran I Bangkalan. Pelatihan ini berlangsung mulai tanggal 12 – 14 Agustus 2008, sedikitnya diikuti 30 peserta terdiri dari 1 (satu) MTT (Master Teacher Trainer) second, 1 (satu) Manajer dan 1 (satu) guru. Mereka berasal dari 10 PSBG binaan DBE 2 Jawa Timur, yang berasal dari 5 (lima) wilayah yaitu Sidoarjo, Bangkalan, Surabaya, Tuban, Mojokerto. Dalam pelatihan ini yang menjadi fasilitator semua adalah tim ICT (Information and Communication Technology) yang terdiri dari 1 (satu) Kordinator dan 3 (tiga) Asisten. Selain dihadiri PC (Provinsial Coordinator) Jawa Timur, Ibu Ani, pelatihan ini juga dihadiri oleh Marry Burn (Senior Master Trainer) dan Ibu Bodro (Officer Trainer) dari DBE 2 Jakarta.

Donovanti Putra Perdana, Kordinator ICT, mengatakan, “Pelatihan ini cukup sukses, meskipun ini baru pertama kalinya kami tim ICT malaksanakan pelatihan, indikator kesuksesannya terlihat dari antusiasme peserta, hasil karya para peserta, dan semua materi telah disampaikan serta tepat waktu. Meskipun pada awalnya kami sempat kawatir terhadap pelatihan ini namun pada akhirnya sukses juga hal berkat persiapan yang dilakukan cukup matang dan serius. Kesuksesan ini berkat dukungan semua pihak, tim DBE 2 Jawa Timur, khususnya Admin yang telah banyak membantu dalam persiapan maupun ketika jalannya pelatihan”.

Kami berharap para peserta nantinya dapat menggunakan hasil TOT Dali untuk persiapan melakukan roll out ke PSBG masing-masing. Karena targetnya semua guru dibawah binaan PSBG dapat mengikuti kegiatan roll out ini. Namun untuk tahap awal kami akan mengikutkan 6 guru saja. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu dan tidak singkron dengan jumlah guru yang seharusnya berpartisipasi. Kedepan kami berharap semua guru yang berada dibawah binaan PSBG dapat mengikuti program ini seluruhnya, ungkapnya.

Peserta TOT DALI Bangkalan Jatim Diskusi

Peserta TOT DALI Bangkalan Jatim Diskusi

Lebih lanjut Bambang Tirto W, S.Pd., Manajer PSBG Juanda Media Sidoarjo salah satu peserta pelatihan TOT Dali di Bangkalan, menegaskan, “Kami sangat senang mengikuti pelatihan ini karena materi-materi yang disampaikan tergolong masih baru dan sangat berguna untuk pembelajaran siswa aktif dengan tehnologi terbatas. Karena pada umumnya sekolah belum banyak yang memiliki komputer untuk pelaksanaan pembelajaran aktif di setiap kelas. Untuk itu kami akan memaksimalkan komputer yang ada untuk proses pembelajaran tersebut. Dengan adanya TOT ini kami berharap mampu memaksimalkan penggunaan tehnologi terbatas yang ada di sekolah untuk pembelajaran”.

 

 

Dalam TOT Dali kali ini dipandu oleh fasilitator yang masih muda-muda tapi sudah mempunyai kemampuan yang hebat dan antara satu dengan yang lainnya mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Kemampuan mereka yang beragam ini justru memperkaya kami dalam mengadopsi sistem pembelajaran, metode mereka dalam menyampaikan materi membuat kami terpesona meskipun kadang ada yang jauh diluar pemikiran kami. Bahkan untuk materi Iklan Digital, sempat muncul pertanyaan dalam benak kami, mampukah murid-murid kami nanti melakukan itu? Tapi itu akan kami coba untuk model pembelajaran di sekolah. Yang menarik dalam pelatihan ini adanya reward pada peserta yang sukses dalam mengerjakan tugasnya, kami termasuk yang mendapat penghargaan pada metode pembelajaran untuk satu komputer, yaitu dalam permainan Jeopardi kami mendapat juara pertama, meskipun hadiahnya hanya ballpoint, sangat senang dan bangga. (an).