BPS Paket Pembelajaran Sains : Sentuhan Hati Menuju Pembelajaran yang Berkualitas

Tim BPS/Pendampingan II Paket Pembelajaran Sains berjalan di atas jembatan yang nyaris ambruk

Tim BPS/Pendampingan II Paket Pembelajaran Sains berjalan di atas jembatan yang nyaris ambruk

Bulan Ramadhan bukan penghalang atau menjadi alasan untuk tidak melakukan aktifitas yang bernilai ibadah, seperti aktifitas yang terjadi di DBE 2 Sul-Sel. Tanggal 9 sampai 11 September 2008 bertepatan hari Selasa sampai kamis, Tim Bantuan Profesional Sekolah (BPS) atau Pendampingan tahap II Paket adaptasi Pembelajaran Sains, yang terdiri dari Dra. Hj.Azizah Rauf,M.A. dari Departemen Agama; Sabri,S.Pd,MSc.Ed , DLC DBE2 Sul-Sel yang didampingi MTT Drs.Nurdin Muin,M.Pd dan Fatimah,S.Pd melakukan rangkaian kegiatan pendampingan di seluruh sekolah binaan yang ada di gugus 1 (Belopa) dan gugus 2 (Bajo) Kabupaten Luwu Propinsi Sulawesi Selatan didukung oleh Pemandu Bidang Studi Sains Hj.Nurhan dan Masdar, sebagai rangkaian terakhir paket pembelajaran sains di kabupaten yang terkenal dengan sebutan “Bumi Sawerigading”. Sebuah kabupaten yang baru terbentuk 5 tahun yang lalu. Nama Sawerigading diambil dari nama seorang tokoh kharismatik yang pernah menapakkan jejaknya dalam sebuah komunitas kehidupan budaya zaman dahulu kala dan bertahta di daerah ini yang terukir manis dalam catatan sejarah.

Daerah ini memiliki kondisi geografis yang berbukit dan bergunung-gunung dengan hamparan sawah,kebun serta terletak di pesisir pantai timur lengan selatan jazirah Sulawesi, membentang dari selatan ke utara teluk Bone, terletak kurang lebih 350 kilometer arah utara Kota Makassar. Merupakan daerah yang subur dan kaya akan sumberdaya alam. Daerah ini terkenal pula dengan sentra produsen buah durian,langsat, rambutan dan bahan makanan “sagu”. Secara umum daerah ini didiami oleh penduduk yang umumnya bermata pencaharian utama sebagai petani yang mengelola lahan perkebunan dan menghasilkan coklat,merica dan tanaman biji-bijian lainnya.

Tujuan utama dari Pendampingan ini adalah untuk memantau, memeriksa dan mendiskusikan dokumen perangkat pembelajaran guru dalam mata pelajaran sains serta realisasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dibuat pada saat pelatihan. Menurut Nurdin Muin selaku Master Teacher Traineer (MTT) bahwa pendampingan ini memberikan nilai tambah dan informasi yang berharga dalam merefleksi dan mereview kembali aktifitas guru pasca Pelatihah Tim Sekolah, KKG (Kelompok Kerja Guru) dan KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah).

Ada sisi yang menarik dalam pelaksanaan BPS yang berbeda dari sebelumnya. Pelaksanaannya kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1429 H, namun tidak menyurutkan semangat tim BPS melaksanakan tugas untuk sebuah tanggungjawab memajukan kualitas pembelajaran di level sekolah dasar. Hari pertama pendampingan di gugus 2 Bajo, tim menuju SD Negeri Nomor 30 Rumaju dan SD Negeri Nomor 31 Sampeang yang terletak di ketinggian 500 sampai 700 meter dari permukaan laut.Untuk menuju ke sekolah, harus dengan semangat dan kesabaran yang tinggi, mengingat medan yang dilalui berliku-liku dan harus melalui sebuah jembatan di atas sungai Sampeang yang nyaris ambruk dengan panjang 50 meter. Dengan kendaran roda dan empat perjalanan sedikit terganggu saat akan melintas di atas jembatan yang menghubungkan ibu kota kecamatan Bajo dan Desa-desa yang ada di sekitarnya.

Akhirnya, Tim Pendampingan tiba di lokasi dengan selamat disambut oleh Kepala Sekolah dan Guru-Guru binaan. Hampir seluruh guru memanfaatkan moment pendampingan untuk mencurahkan isi hati dan pikiran mereka dalam mengemban amanah mencerdaskan anak bangsa. Secara umum mereka harus terus diberi sprit, motivasi agar tetap eksis dalam melakukan tugasnya sebagai abdi negara, di daerah yang jauh dari keramaian kota dan bunyi kendaraan di jalan. Dalam kondisi demikian, “sentuhan hati” dari tim pendamping menjadi entry point untuk memberikan ruang yang kondusif dalam menggalang potensi mereka menyiapkan silabus, rencana pembelajaran yang dilengkapi lembar kerja atau kegiatan siswa, melaksanakan proses pembelajaran,memberikan evaluasi/penilaian dan mengembangkan format penilaian, menggunakan alat bantu atau peraga yang murah dan sederhana, serta memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Sentuhan hati dapat diwujudkan dengan tutur kata yang familiar, sikap yang menghargai dan mengayomi,menerima masukan,memberi penguatan,menempatan diri pada situasi mereka, rendah hati dan mampu menjadi teladan untuk membimbing dan mengarahkan, menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi guru serta kepala sekolah di lapangan. Hakikatnya “Tut Wuri Handayani” menjadi sinonim dari dua kata, yaitu “Sentuhan Hati”.

Menurut Hj.Azizah salah seorang anggota tim, bahwa berkah dari BPS di bulan suci ramadhan adalah keinginan rekan guru untuk melaksanakan tugas dengan baik walaupun dalam situasi berpuasa dan ketulusan hati mereka menerima tim pendamping untuk di bimbing dan diarahkan dalam mempersiapkan dokumen atau perangkat pembelajaran yang berkualitas, dan yang terpenting menyentuh hati orang yang didampingi, melaksanakan atau mewujudkan tujuan pendampingan itu sendiri.

Satu Tanggapan

  1. mantrap mentrong tulisan-tulisannya mallarangan15, maju terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: