REFLIKASI PROGRAM IAI DBE2 MENDAPAT TEMPAT YANG LAYAK

Program Intruction Audio Interaktif (IAI) DBE2 sejak diluncurkan 2 tahun silam di gusus binaan, mendapat tempat tersendiri di komunitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-Kanak yang ada di Sulawesi Selatan. Kabupaten Pinrang telah mereflikasi Program ini di 2 Gugus binaan (Mattirobulu dan Watang Sawitto) sejak bulan Februari 2009.

Peluncuran program reflikasi mendapat sambutan yang luar biasa seluruh insan pendidikan khususnya stakeholders pendidikan di tingkat kecamatan yang membina Taman kanak-Kanak, dengan model swadaya/mandiri di dukung MTT handal yang dimiliki kabupaten Pinrang (Sabariah,Abrar,Reski, dan Hastuti).

Program IAI DBE 2 mendapat tempat yang layak dikalangan masyarakat dan dunia PAUD karena program ini dapat memenuhi kebutuhan anak-anak Indonesia. Beberapa karakteristik program ini adalah:

 IAI mencakup kurikulum TK nasional
 Dikembangkan dan diproduksi di Indonesia oleh para pakar, penulis naskah dan aktor- aktor Indonesia
 Dilakukan uji lapangan di Propinsi- propinsi DBE2
 Menggunakan pembelajaran aktif untuk melipat gandakan intelegensia
 Memungkinkan guru menerjemahkan ke dalam bahasa daerah kalau perlu dan sesuai

Sebagai gambaran, Pembelajaran Audio Interaktif adalah sebuah metodologi pendidikan yang secara aktif melibatkan anak didik dalam pembelajaran melalui program- program audio yang dirancang dengan hati- hati yang direkam pada kaset atau CD.

Metodologi ini telah dikembangkan, dites dan diimplementasikan dengan berhasil di beberapa negara dengan banyak audiens yang berbeda dengan populasi yang sulit dicapai dan mereka tidak bersekolah. Pelajaran- pelajaran audio menghidupkan kelas dengan menggunakan cerita, nyanyian, kegiatan fisik, dan permainan peran yang mendorong dan memberi contoh/ model tentang adanya interaksi antara guru dan anak didik. Tokoh- tokoh dalam program audio mengajukan pertanyaan, memberi saran dan memimpin kegiatan.

Hebatnya, bahwa program ini memposisikan Guru bekerja sebagai mitra dengan program audio; program audio membimbing baik guru maupun anak didik. Peran guru mencakup: Mengambil bagian dalam kegiatan- kegiatan kelompok secara menyeluruh yang merupakan bagian dari program; Bekerja dengan/ membantu anak didik secara perorangan selama program berlangsung; Memimpin kegiatan- kegiatan follow-up setelah program.

Berdasar pada keunggulan program IAI yang dikembangkan DBE2, menggugah pula Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Mamajang Kota Makassar untuk mereflikasi program ini di luar sekolah binaan, sebagaimana yang telah dilakukan di kabupaten Pinrang.

Pertemuan awal dan sosialisasi program telah dilakukan pertengahan April 2009 di TK Pembina Aisyiah Kecamatan Mamajang Kota Makassar, yang disponsori oleh IGTKI, dengan dukungan penanggungjawab program di TK Sulawesi sebagai TK binaan DBE2.

Hatika, ketua IGTKI-PGRI Kecamatan Mamajang dan penanggungjawab program IAI TK Sulawesi bersama Andryani Akib, sekertaris IGTKI didampingi MTT 1 Mamajang, Amir Mallarangan menggagas program reflikasi bersama stakeholders TK se-Kecamatan Mamajang untuk berbagi pengalaman dengan guru dan kepala TK.

Langkah awal yang akan dilakukan adalah inventarisasi dan analisis kebutuhan program reflikasi bersama stakeholders TK, dan action plan. Menurut Hatika bahwa rencana peluncuran program reflikasi di wilayahnya paling lambat bulan Juni 2009, sebelum penerimaan murid baru. Tujuan sosialisasi program reflkikasi adalah: Mempresentasikan konsep DBE2 tentang model TK berbasis audio berkualitas tinggi tetapi murah; Memperkenalkan proses produksi program audio kepada para stakeholder; Memperkenalkan bagaimana cara program audio dapat berfungsi dalam kelas.

Amir Mallarangan di sela-sela mempresentasikan program IAI mengemukakan bahwa program reflikasi yang dilakukan secara mandiri dengan mengusung model pendekatan kesadaran dan kemandirian akan mendukung keberlanjutan dan mendukung keunggulan program, antara lain:

 Pengendalian Mutu/ Quality control
 Keterlibatan keluarga dan komunitas, pengembangan kapasitas pendidik dan para sukarelawan
 Efektif dari segi biaya
 Meningkatkan kualitas pembelajaran
 Mengapdate praktik pengajaran
 Mengapdate isi/ muatan kurikulum
 Melakukan diversifikasi & mendukung kegiatan belajar/ mengajar.
 Menjangkau anak didik yang tidak memiliki akses dengan cara apapun.

Program reflikasi yang sudah dan akan dikembangkan diharapkan menjadi pioneer dan embrio program yang lebih besar di Sulawesi Selatan. Pengkajian, analisis dan evaluasi program reflikasi mandiri terus dilakukan oleh staff lapangan (MTT dan Penanggungjawab TK binaan), mengingat program ini mendapat tempat dan diminati oleh stakeholders di lapangan.

Reflikasi Program IAI di Gugus binaan Kabupaten Pinrang, disaksikan stakeholders pendidikan setempat

Reflikasi Program IAI di Gugus binaan Kabupaten Pinrang, disaksikan stakeholders pendidikan setempat

Satu Tanggapan

  1. ini contoh yang baik dan berguna untuk pemprop, yang pernah mendiskusikan interes dengan PAUD yang lebih kuat di propinsi sulsel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: