Pelatihan ICT Maintenance & Troubleshooting Propinsi Sumatera Utara

Peserta yang sedang berkonsentrasi mempelajari bagian-bagian komputer dalam Stasiun Perakitan

Peserta pelatihan berkonsentrasi untuk melakukan instruksi dalam Stasiun Perakitan Komputer

Untuk menambah kemampuan para MTT dan DLC serta pengurus PSBG Kohort 1 Sumatera Utara dilaksanakan Pelatihan trouble shooting and maintenance oleh Tim ICT DBE2 Sumatera Utara di Hotel Mikie Holiday, Brastagi, Sumatera Utara pada hari Selasa – Kamis 27 – 29/10/2009.

Pada acara pembukaan Provincial Coordinator DBE2 Sumatera Utara didampingi oleh Fasilitator, Winastawan Gora dari DBE2 Jakarta dan ICT kordinator DBE2 Sumatera Utara, Yasir Siregar menyampaikan bahwa para peserta pelatihan akan dibekali kemampuan mengatasi masalah-masalah yang sering muncul pada komputer- komputer di PSBG.

Lebih lanjut Dr. Parapat Gultom mengatakan bahwa ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan pada komponen IT yaitu Hardware, software dan Brainware. Brainware lebih penting ditingkatkan karena IT berkembang begitu cepat ujarnya pada pembukaan pelatihan ini.

Selama pelatihan para peserta dibekali kemampuan mengenali perangkat-perangkat komputer dan mencoba menginstal ulang program-program tersebut seperti yang diminta oleh instruktur sesuai dengan lembar kerja yang diberikan.

Tampak pada sesi hari pertama semua peserta sangat serius mengikuti sesi dan tidak ada waktu yang terluang semua fokus pada tugas yang diemban masing-masing kelompok.

Pelatihan berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan dan para peserta masih butuh pelatihan-pelatihan tambahan tentang ICT agar kemampuan tetap kekal dan dapat diimbaskan di daerah peserta masing-masing. semoga

Iklan

Sustainability Program DBE2 : Memandirikan Gugus Binaan di Sulawesi Selatan

Program DBE2 telah bergulir di bumi Sulawesi Selatan hampir empat tahun, dan telah menghasilkan beberapa kemajuan penting membangun dunia pendidikan dasar yang terdesentralisasi menuju pendidikan yang berkualitas. Telah banyak tenaga,waktu, dan biaya yang digulirkan untuk mengawal program ini. Tak dapat dihitung lagi berapa kegiatan pelatihan/workshop,lokakarya dan sejenisnya mengawal program ini.

Banyak yang telah dilakukan, meskipun tidak banyak pula yang perlu ditingkatkan ,disebartluaskan,dan dijaga stabilitasnya. Strategi dan pendekatan yang digunakan untuk membumikannya adalah “Sustainable Program” atau program keberlanjutan dengan menawarkan beberapa pendekatan, seperti kemitraan,kemadirian,peningkatan kapasitas atau keterampilan profesionalisme stakeholders lokal,reflikasi/desiminasi sampai memandirikan Pemandu Bidang Studi dan Pengawas dengan program menthoring, Kepala Sekolah dan Guru Taman Kanak-Kanak dengan Program Audio Interaktif,memberdayakan PSBG, pelatihan mandiri sesuai kebutuhan masing-masing gugus dan sebagainya. Kegiatan akan menjadi bermakna jika telah membumi bersama stakeholders di daerah binaan. Kata kuncinya adalah perkuat jaringan dan bangun kemitraan bersama mereka.

Dipenghujung tahun 2009 ini, program andalan DBE2 adalah DALI dan Intel Teach Workshop, Peningkatan Kemampuan Profesional (PKP), Field Staff Training untuk peningkatan kapasitas staff lapangan, Comunication and Maintenance CRC/PSBG Workshop, dan Class Room Reading Program. Khusus untuk Reading Program,menjadi program yang dapat membumi di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar.

Program Pemerintah Kota Makassar yang bertitel ”Masyarakat Gemar Membaca” dapat berintegrasi dan menjadi fundament Suistainable program DBE2, yang dapat berterima dan bersinergi dengan kebutuhan masyakat belajar di Kota Makassar, terutama di jenjang Sekolah Dasar dan Pra Sekolah (PAUD dan TK). Program ini menjadi prioritas utama dan jembatan emas meningkatkan kualitas pendidikan,yang saat ini Pemerintah Kota Makassar memacu diri dan berupaya mensejajarkan kualitas pendidikan dengan daerah atau kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Gayung bersambut,program akan membumi dan mimpi keberlanjutan akan menjadi kenyataan, kita tunggu hasilnya.

Kabupaten dan Kota binaan DBE2 Sulawesi Selatan lainnya, yang tersebar di luar Kota Makassar, tak kalah gencarnya untuk menyongsong program keberlanjutan,dimulai dengan video conferens bersama UNM, sampai reflikasi besar-besar mulai di tingkat Gugus sampai Kabupaten/Kota, baik jennjang Sekolah Dasar maupun Pra sekolah. Kondisi ini harus tetap dipertahankan sembari memperkuat jaringan dan kemitraan dengan aksi nyata. Gugus binaan harus direkonstruksi untuk melakukan program kegiatan yang menopang program keberlanjutan,seperti melakukan kegiatan sesuai kebutuhan gugus, dan memandirikan mereka untuk mengorgaisasi pelatihan (manajemen pelatihan berbasis gugus),memberdayakan sumberdaya lokal untuk berbagi pengalaman mereka di daerah masing-masing. Kantor DBE2 dapat menfasilitasi mereka untuk melakukan ”Training Needs Assesement (TNA)”, selanjutnya perlahan tapi pasti memulai mengurangi peran yang ”Top Down”, dan membangkitkan peran ”Bottom Up”, sambil menginspirasi gugus untuk siap memegang tongkat estapet. Inilah hakikat Sustainable Program untuk konteks Sulawesi Selatan,bahkan Indonesia.

Program Sosialisasi dan Reflikasi Audio Interaktif mendukung Sustainable Program

Program Sosialisasi dan Reflikasi Audio Interaktif mendukung Sustainable Program

Suasana Kelas yang dapat menjadi Inspirasi "Reading Program"

Suasana kelas dapat menjadi Inspirasi "Reading Program"

“Siswa belajar Komputer bukan untuk jadi ahli komputer”

BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER

BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER

Banyak sekolah rame-rame membuat laboratorium komputer. Apalagi dengan adanya akreditasi sekolah, bahwa sekolah yang mempunyai lab. komputer akan mendapat nilai baik dalam penilaian akreditasi tersebut. Bahkan tidak jarang sekolah dengan berbagai upaya memaksakan diri untuk mengadakan  komputer di sekolah hanya sekedar untuk gengsi belaka.

Komputer yang sudah ada jarang digunakan untuk kegiatan siswa. Kalaupun digunakan hanyalah untuk belajar bagaimana “mengoperasikan” komputer sebagai alat ICT yang tidak tahu kemana arahnya setelah siswa mampu menguasai keterampilan itu.

Dengan membuat jadwal tertentu siswa dapat “kursus komputer” di lab. sekolah. Bukan tidak mungkin bahwa setiap siswa hanya bisa memegang komputer tersebut setiap 2 minggu sekali. Setiap kali “kursus komputer” siswa hanya dapat memperoleh kemanfaatan sebagai operator komputer.

Sangat disayangkan bahwa alat multimedia dengan fasilitas multifungsi tersebut hanya digunakan sebatas pada bagaimana cara mengetik di komputer. Padahal tujuan dari pembelajaran di sekolah adalah bagaimana kita mempersiapkan anak didik dengan berbagai kecakapan dan pengetahuan yang sebenarnya bisa kita peroleh dari komputer tersebut. Anak bisa memperoleh kecakapan untuk kontruksi mesin, anak bisa mengarang lagu, anak bisa membuat design rumah, merancang jembatan dan sebagainya dengan menggunakan komputer.

Paradigma yang sempit dari para guru akan penggunaan komputer hanya berorientasi bagaimana anak bisa syukur ahli mengoperasionalkan komputer. “Itu sangat mubadzir”. Siswa belajar komputer bukan untuk menjadi ahli komputer.

Namun seharusnya mereka belajar berbagai ilmu pengetahuan dan keterampingan dengan menggunakan komputer. Jadi komputer hanya sebagai media untuk mendapatkan berbagi ilmu pengetahuan. Komputer bukan obyek untuk pembelajaran itu sendiri. Bagaimana memanfaatkan komputer untuk pembelajaran silahkan lihat pada artikel saya sebelumnya.

Apakah pembaca blog apakabarpsbg sudah jenuh?

Apakah blog apakabarpsbg yang diluncurkan 2 tahun lalu saat ini sudah mulai sampai titik jenuh?

Sebuah pertanyaan sekaligus internal kritik ini rupanya perlu saya lontarkan kepada semua warga PSBG di seluruh Indonesia. Tentu tidak terkecuali bagi pengelola blog kebanggaan DBE 2 ini.

bosanKawan, kalau kita cermati blog ini semakin hari nampaknya semakin menurun statistiknya. Baik dilihat dari para pembaca maupun dari para kontributor tulisannya. Tulisan yang paling banyak dicari adalah tentang Silabus dan RPP, prediksi soal Ujian, Alat peraga Sederhana dan berikutnya semacam download program. Sangat sedikit yang mencari informasi tentang reportase.

Berdasarkan analisis saya ada beberapa hal yang membuat blog ini cepat mencapai titik jenuh, antara lain:

  1. Sajian tulisan cenderung monoton. Kalau kita lihat hampir 70 % tulisan di blog ini sebagai hasil dari reportase kegiatan. Tulisan ini bagus sebagai ajang publikasi dan “promosi” dari sebuah kegiatan yang sudah kita laksanakan. Namun demikian, kalau yang muncul reportase semua tentu akan menjemukan bagi pelanggan blog ini. Sebab kebutuhan para pembaca terhadap sebuah blog tentu sangat beragam.
  2. Sangat sedikit informasi yang bersifat “memberikan nilai tambah” terhadap informasi dan pengetahuan pembaca yang barangkali sangat mereka butuhkan. kalau kita cermati informasi yang demikian banyak yang telah ditulis dalam blog ini hanya sekitar 5 sampai 6 tulisan yang banyak dicari pembaca.
  3. Pembaca berita (reportase) lebih cenderung terhadap berita yang berkaitan dengan diri sendiri, programnya sendiri  atau wilayahnya sendiri. Jadi dimungkinkan pembaca berita yang ditulis teman-teman dari daerah yang peduli untuk membaca adalah hanya warga gugus itu sendiri, DBE 2 Provinsi, dan DBE 2 Jakarta. Warga gugus yang lain yang bukan wilayah sipenulis dimungkinkan tidak tertarik untuk membaca.

Usulan saya:

  1. DBE 2 harus tetap menunjuk operator blog apakabarpsbg. Operator bisa berkedudukan di Jakarta atau provinsi dari team ICT atau komunikasi.
  2. Para kontributor tulisan hendaknya beragam tulisannya. Reportasi kegiatan masih sangat penting, namun akan sangat menarik jika juga menyuguhkan berbagai informasi yang memberi nilai tambah terhadap kompetensi dan pengetahuan pembaca, seperti: teory-teory, berbagai strategi pembelajaran, teknik-teknik dalam fasilitasi maupun pembelajaran, pengalaman yang berhasil, program-program yang sekarang sedang dibutuhkan spt: Prediksi soal untuk CPNS, untuk UASBN dan sebagainya. bahkan jika mungkin berbagai informasi tentang dunia iptek, kesehatan, agama dan sebagainya.
  3. Semua tulisan tersebut hendaknya bisa merangsang para guru untuk akarab dengan ICT atau internet, karena meraka merasa membutuhkan.

Selamat dan tetap jaya DBE 2 !!!!!!!!!!!

7 Nilai yang diyakini bisa meningkatkan kinerja Tim gugus

Mr. David O'meara

Mr. David O'meara

Bagaimana cara kita bereaksi terhadap sesuatu peristiwa dipengaruhi oleh keyakinan yang kita pegang atau kita percayai. Contohnya, jika saya merasa tidak didukung atau dihargai oleh tim, saya mungkin akan melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kesalahan saya.  Sebaliknya jika saya merasa demikian besar didukung oleh tim saya maka saya akan lebih berani dalam mengambil resiko demi tim saya. Berikut dijelaskan oleh David O’emara (PSEA DBE 2 Jakarta) tentang 7 hal yang dapat membangkitkan semangat tinggi untuk bekerja dalam sebuah tim.  Sesi ini disajikan dalam Field Staff Training (FST) DBE 2 Jawa Tengah baru-baru ini (12-16 Oktober 2008)

7 Nilai-nilai Tim yang Berkinerja Tinggi (TBT) / High Performing Teams (HPT) adalah:

1. Jelas dan dapat dipertanggungjawabkan

Setiap anggota tim percaya bahwa mereka masing-masing memiliki peran dan tanggungjawab yang jelas. Setiap anggota tim saling mengetahui di bidang apa mereka dapat diandalkan oleh anggota tim yang lain dan apa yang yang mereka andalkan dari anggota tim yang lain.

2. Kemampuan yang dapat dipercaya

Setiap anggota tim meyakini bahwa seluruh anggota tim saling percaya bahwa mereka mengetahui bagaimana melakukan tugas mereka tanpa harus diawasi.

Dalam sebuah tim multidispiliner, ini diartikan sebagai “saya tahu apa yang harus kamu kerjakan dan percaya kamu dapat mengerjakannya – bagaimana kamu mengerjakan itu adalah caramu sendiri”. 

3. Memberi dan menerima

 

Anggota tim percaya bahwa jika mereka memerlukan bantuan mereka dapat meminta pada anggota yang lain  dan bantuan itu akan tulus didapatkan dari anggota tim yang lain.

Mereka percaya bahwa dengan meminta bantuan, sebenarnya meningkatkan keberadaan diantara tim daripada dipermalukan.  Mereka juga percaya bahwa dalam kinerja tim sesuatu berarti kurang baik jika seseorang berusaha sendiri tidak melibatkan orang lain dan tidak meminta bantuan kerjasama orang lain, atau meminta bantuan tetapi diabaikan oleh tim. 

4. Transparan secara Total

Setiap anggota tim berharap dalam setiap isu-isu penting dalam tim meskipun tidak secara langsung berpengaruh pada mereka, setiap anggota tim selalu tetap saling jujur dan terbuka. Ini adalah bagian dari dinamika dimana setiap anggota tim percaya bahwa merekalah penentu tim sehingga mereka dapat berkontribusi melebihi fungsi khusus masing-masing.

Mereka juga percaya bahwa mereka dapat secara bebas mengatakan pendapat mereka tentang situasi tertentu yang tidak secara langsung menjadi tanggungjawab mereka dan pendapat ini harus dihormati dan didengarkan.

5. Berbagi Keberhasilan  (baca selengkapnya di sini)

Jawa Tengah telah memiliki 40 Fasilitator handal yang siap membantu pemerintah memajukan pendidikan

Wisuda Fasilitator & Trainer DBE 2 Jawa Tengah

Wisuda Fasilitator & Trainer DBE 2 Jawa Tengah

Penobatan 38 fasilitator tingkat provinsi Jawa Tengah pada tanggal 15 Oktober 2009 ditandai dengan wisuda para fasilitator Jateng. Penobatan ini sangat istimewa karena dilakukan dihadapan para stakakeholders baik tingkat provinsi maupun kabupaten. Para undangan yang hadir antara lain dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, LPMP, Universitas mitra se-Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten/ kota, Bappeda Kabupaten, Kepala UPTD Dinas Pendidikan, dan para stakeholder lainnya.

Pada kesempatan itu Mr. Michel Calvano, Ph.D Pimpinan tertinggi (COP) DBE 2 Indonesia menyampaikan beberapa pesan diantaranya adalah:

DBE 2 telah melakukan banyak pelatihan peningkatan mutu pendidikan di Jawa Tengah. Dan pelatihan tersebut telah dinikmati oleh seluruh guru di daerah binaan DBE 2 di jawa Tengah.

Mr. Michel Calvano berorasi di hadapan para stakeholders Jawa tengah

Mr. Michel Calvano berorasi di hadapan para stakeholders Jawa tengah

  1. Yang membedakan pelatihan DBE 2 dengan program lainnya adalah adanya pendampingan sampai ke sekolah-sekolah dari setiap program pelatihan yang telah dilakukan.
  2. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa DBE 2 telah membentuk para guru untuk menjadi fasilitator handal yang siap digunakan oleh pemerintah dalam peningkatan mutu pendidikan dalam arti yang lebih luas. Mereka (MTT-Master Trainer Teacher) paling tidak telah berbuat banyak untuk kabupaten/ kota untuk membawa perubahan yang lebih baik pada bidang pendidikan.
  3. Kesiapan para fasilitator yang telah dididik oleh DBE 2 bukan hanya sebagai kewajiban moral DBE 2 untuk regenerasi fasilitator inti, namun lebih dari itu adalah para fasilitator tetap berorientasi pada kualitas personal. Oleh karena itu mereka (fasilitator) diberikan ijazah dengan disertai nilai kompetensi yang tertulis pada sertifikat fasilitator. Daftar nilai tersebut menggambarkan secara riil kapasitas para fasilitator. Tentu ada yang memiliki nilai sangat memuaskan dan juga ada nilai yang dirasakan kurang. Semua itu diberikan sebagai gambaran obyektif kepada pemakai untuk menentukan penilaian secara obyektif kepada para fasilitator.

Akhirnya Mr. Michel Calvano, Ph.D menyerahkan semua potensi yang telah dimiliki Jawa Tengah tersebut kepada semua pengambil kebijakan yang ada. Perlu diketahui bahwa Prestasi jawa tengah selama menjalankan program DBE 2 adalah luar biasa sukses.

Pengembangan Jaringan Gugus Sekolah (ClusterNet), Upaya Gotong Royong Menghubungkan Sekolah dengan Jaringan Global

Antenna pemancar yang menjulang tinggi di depan gedung Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG)

Antenna pemancar yang menjulang tinggi di depan PSBG Ki Hajar Dewantara, Kaliwungu, Kudus

Decentralized Basic Education 2 : Teaching and Learning (DBE2) sebagai proyek peningkatan kualitas belajar mengajar di pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengembangkan Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) guna mendukung dan memfasilitasi berbagai kegiatan di setiap gugus sekolah sebagai peningkatan Pusat Kegiatan Guru (PKG) yang telah ada lebih dulu. Sesuai dengan (4) empat fungsinya, Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) yang tersebar di seluruh Indonesia akan digunakan oleh berbagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai tempat pertemuan membahas berbagai rencana kegiatan di gugus (fungsi Pertemuan), sebagai tempat berlangsungnya berbagai kegiatan pelatihan untuk guru (fungsiPengembangan Profesional), tempat untuk mengembangkan materi pembelajaran dan alat peraga murah (fungsi Produksi), serta menjadi wahana mengakses sumber pembelajaran baik berupa buku, CD Multimedia maupun secara online mengakses sumber pembelajaran di Internet (sebagai fungsiInformasi).

Khusus untuk mendukung keempat fungsi tersebut, terutama untuk mendukung kegiatan komunikasi, kolaborasi, melakukan pencarian dan eksplorasi sumber belajar, PSBG perlu untuk terhubung dengan jaringan global yaitu Internet serta menghubungkan komputer yang ada di PSBG dengan jaringan lokal (Local Area Network). Untuk itu PSBG membutuhkan infrastruktur jaringan Internet dan Intranet, kegiatan ujicoba dan pelatihan untuk mengoptimalkan jaringan yang ada nantinya. Oleh karena itu DBE2 melakukan ujicoba kegiatan “ClusterNet (Cluster Network)” sebagai upaya untuk pembangunan jaringan internet dan jaringan lokal di gugus (cluster).

Antenna tutup panci bolic untuk menghubungkan sekolah dengan koneksi jaringan lokal dan Internet di gugus

Tutup panci bolic untuk menghubungkan sekolah dengan jaringan lokal dan Internet gugus

Kegiatan ujicoba dilakukan di 4 (empat) PSBG yang berada di propinsi Jawa Tengah. Keempat PSBG tersebut adalah PSBG Ki Hajar Dewantara (Kaliwungu, Kudus), PSBG Pratiwi Sudarmono (Tahunan, Jepara), PSBG Gatotkaca (Jogonalan, Klaten) dan PSBG Diponegoro (Cepogo, Boyolali). Di keempat PSBG tersebut saat ini telah dibangun antena pemancar untuk menyebarluaskan koneksi jaringan lokal dan Internet yang ada di PSBG kepada sekolah sekitar. Kemudian sekolah yang ada di sekitar PSBG terhubung memanfaatkan perangkat penerima wireless murah yaitu dengan Tutup Panci Bolic :).

Dalam kegiatan ClusterNet ini warga gugus bergotong-royong untuk membayar biaya bulanan langganan Internet. Mereka juga diharapkan dapat berswadaya untuk membuat perangkat penerima wireless yang murah, untuk menghubungkan sekolah mereka dengan koneksi jaringan lokal gugus dan koneksi Internet. Harapan kami koneksi jaringan lokal dan Internet ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan guru dalam menunjang kegiatan pengembangan profesionalisme mereka serta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kepada siswa saat ini. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari gugus untuk melakukan hal ini mengingat kebutuhan pembiayaan yang tidak sedikit. Namun berkat dukungan yang kompak dari sekolah-sekolah yang ada di gugus, serta dukungan dari Kepala UPTD setempat, maka keberlangsungan aktifitas ini dipastikan akan berjalan. Semoga apa yang kita lakukan dapat memberi manfaat untuk pendidikan di Indonesia. Semoga!