KEGIATAN DALI DI PSBG PANGUDILUHUR

BERLANGSUNG MERIAH DAN SUKSES

ROLL OUT TINGKAT GUGUS SEKOLAH

GELOMBANG 2

DEVELOPING ACTIVE LEARNING WITH ICT (DALI)

Untuk meningkatkan kompetensi guru di bidang pembelajaran, khususnya pembelajaran berbasis ICT, di Gugus Sekolah 01 Kertosono telah dilaksanakan Roll Out Tingkat Gugus Sekolah Gelombang 2 tentang Pengembangan Pembelajaran Berbasis ICT. Kegiatan ini biasa disebut dengan DALI (Developing Active Learning With ICT), yang telah terlaksana dari tangal 16 s.d. 18 Februari 2010 di PSBG Pangudi Luhur Kertosono-Kabupaten Nganjuk.

Kegiatan seperti ini telah dilaksanakan juga sebelumnya, yaitu Roll Out Tingkat Gugus DALI 2, yang telah dilaksanakan pada tanggal 19—21 Oktober 2009, di PSBG Pangudi Luhur pula.

Kegiatan-kegiatan tersebut sebenarnya merupakan tindak-lanjut dari kegiatan ToT DALI dan One Day Workshop DALI Mentoring & Follow Up Cohort 2, yang dilaksanakan di Hotel ”Grand Surya” Kediri pada tanggal 29 Juni s.d. 2 Juli 2009.


Semua itu merupakan tindak lanjut hasil Nasional ICT Orientation Workshop tanggal 14 sampai dengan 28 Juli 2008 di Klaten Jawa Tengah. Kemudian DBE2 Jawa Timur berkewajiban menyelenggarakan sebuah workshop untuk membentuk agen-agen program transisi pada bidang pemanfaatan ICT dalam pembelajaran aktif. Agen-agen yang terdiri dari MTT 1st , MTT 2nd, dan seorang Guru yang sedikitnya

mempunyai kemampuan dalam bidang ICT, yang nantinya diharapkan mampu melakukan ekspansi kepada para guru di gugus masing-masing, terkait dengan program pembelajaran aktif dengan menggunakan ICT.

Adapun tujuan dari kegiata ini adalah

1) Meningkatkan keterampilan

peserta untuk merancang model pembelajaran aktif dengan menggunakan ICT terbatas,

2) Memberikan keterampilan dasar para peserta dalam mengoperasikan komputer, kamera, handycam dan internet;

3) Membentuk kader /pelatih yang mampu mentransformasi pembelajaran aktif dengan menggunakan ICT kepada rekan-rekan guru lainnya.

(Maz_nar 2010)


Iklan

WARTA PANGUDILUHUR KERTOSONO

Berprestasi Pada

Lokakarya Keberlanjutan PSBG

Dalam Rangka Pengembangan Kapasitas Gugus Cohort 2 Di Malang

Untuk menunjang keberlanjutan komponen Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) DBE 2 Provinsi Jawa Timur, Tim Komunikasi, bekerjasama dengan para District Learning Coordinators (DLC) melaksanakan pelatihan pengembangan kapasitas untuk pengurus PSBG.


Pelatihan ini dapat memberi wawasan untuk menjadi bekal bagi para pengurus PSBG dalam menguasai kemahiran dalam mensosialisasikan PSBG kepada target pengguna dan juga kepada khalayak yang lebih luas lagi.

Secara garis besar pelatihan ini terdiri dari tiga sesi utama yang terdiri dari: i) Sesi pembuatan materi promosi untuk keberlangsungan dan sosialisasi PSBG; (ii)) Penulisan proposal pengajuan dana dan porposal kegiatan; (iii)) Penyusunan materi presentasi yang profesional; iv) Eksibisi dan presentasi.


Adapun kegiatan Lokakarya Keberlanjutan PSBG dalam Pengembangan Kapasitas Gugus Cohort 2 dilaksanakan pada: Hari : Rabu s.d Jum’at, Tanggal 10 – 12 Februari 2010 , dari Pukul : 08.00 – 17. 00 WIB. Pelatihan bertempat di Hotel Ollino Garden Jl. Aries Munandar 41- 45 Malang .

Pada pelatihan tersebut setiap sesi kegiatan selalu menghasilkan sebuah produk, dan hasil-hasilnya dinilai serta dilombakan. Peserta dari Kertosono yang diwakili Ketua PSBG Salis Rahmawati, Pengurus PSBG Siswanto, dan MTT 2nd Sunardi berhasil memperoleh penghargaan dari semua kategori yang diikuti.

Keberhasilan mereka adalah sebagai berikut :

1. Neswleter terbaik I

2. Proposal Terbaik II

3. Presenter Terbaik II, dan

4. Brosur PSBG Terbaik III.

(maz_nar.2010)

JANGAN PERNAH TIDAK “MEMBACA” (Bagian I)

Indonesia sudah merdeka dari penjajahan sejak 64 tahun silam. Perjalanan panjang  menapaki kemerdekaan diikuti dengan serentetan peristiwa, yang mengantar bangsa ini di jurang perpecahan. Perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya di era orde baru kebangkitan bangsa yang sudah dirintis sejak tahun 1920 mulai bersemi. Kehidupan kembali menemui secercah harapan, tak terkecuali di sektor pendidikan. Geliat kemajuan bangsa menunjukkan betapa tingginya keinginan luhur untuk memacu diri dari ketertinggalan dari bangsa lainnya.

Seiring kemajuan dan perkembangan zaman, di abad modern ini teknologi begitu mudah diakses, dan zaman telah banyak membentuk gaya hidup seseorang. Merenungkan kembali kemerdekaan RI yang sudah lebih dari setengah abad, eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa, serta prestasinya di kancah persaingan internasional, akan ditentukan oleh satu hal,yaitu: masyarakatnya senang membaca atau tidak. Jika masyarakat tidak memiliki budaya membaca, Indonesia sebagai Negara dan bangsa,cepat atau lambat akan mengalami degradasi,disintegrasi, kenudian terkotak-kotak dan tercabik, bahkan lebih dari itu akan hilang dari peta dunia. Setiawan Hartadi seorang Pustakawan yang bermukim di Surabaya menuturkan bahwa kita gagal membangun masyarakat yang gemar membaca, budaya riset,pemanfaatan iptek,ethos kerja,produktifitas,kemerdekaan,kebangsaaan,waktu, bahkan Indonesia hanyalah konsep-konsep ilusif yang sulit dipahami, dan dihargai oleh masyarakat yang tidak membaca.

Membaca tidak hanya dipahami memaknai rangkaian huruf,kata, dan kalimat,namun juga “membaca” dalam arti memaknai peristiwa kehidupan multi-dimensi. Jika mendidik berarti mengajarkan bagaimana memaknai seluruh pengalaman hidup,maka mendidik berarti mengajarkan bagaimana caranya membaca. Hakikatnya bangsa yang miskin adalah bangsa yang miskin gagasan.

Gagasan berkenaan dengan membangun budaya membaca, terkhusus di dalam dunia pendidikan mutlak dilakukan untuk menjawab tantangan bangsa ke depan. Peletakan dasar kebiasaan membaca harus dimulai sejak dini, khususnya di jenjang pra sekolah dan sekolah dasar terutama di kelas awal. Filosofi yang mendasari hal itu, bahwa anak didik kita yang duduk di jenjang pendidikan dasar awal dari tugas perkembangan jiwa seorang anak,sehingga di saat usia menanjak kebiasaan membaca terus berlanjut hinga dewasa bahkan sampai liang lahat. “Iqra”, maka “bacalah”. Bagaimana membangun budaya membaca sehingga keinginan kita membentuk budaya membaca sejak dini dapat terwujud akan penulis paparkan di bagian ke-dua dari tulisan ini.

Budaya membaca mutlak dibangun sejak usia dini

WARTA LUHUR PSBG PANGUDI LUHUR KERTOSONO

Pemanfaatan Barang Bekas Sebagai Sumber Belajar

Ide kreatifnya adalah dengan memanfaatkan “Barang Bekas”, yaitu bekas kemasan barang-barang belanjaan sebagai sumber belajar. Dia mengajak anak-anak mencari beraneka-ragam “Barang Bekas”. dari lingkungan sekitarnya untuk digunakan sebagai media belajar di kelas.

“Saya meminta anak-anak untuk mencari beraneka macam “Barang Bekas”. dari lingkungan sekitar rumahnya untuk digunakan sebagai media belajar di kelas.” Begitu kata bu Etik menjelaskan. “ “ Barang-barang tersebut lalu saya beri label harga dengan bilangan sesuai dengan tingkat berfikir siswa kelas III.” lanjutnya. ”Misalnya Pasta Gigi harganya Rp. 173,- Lalu Neozep harganya Rp. 79,- dan seterusnya. Jadi bukan haraga yang sebenarnya. Kemudian barang-barang tersebut saya atur hingga menyerupai ”Toko” atau ”Mini Market”. Selanjutnya anak-anak saya minta untuk berbelanja, dan menjumlah berapa jumlah harga barang belanjaan mereka hari itu. Jika mereka membayar dengan uang ”sekian” misalnya, mereka akan dapat menghitung uang kembaliannya. Jadi dengan demikian saya telah membuat mereka belajar dan berlatih operasi hitung ”penjumlahan dan pengurangan” Begitu penjelasan bu Etik. “Saya lihat mereka begitu antusias dan bersemangat dalam belajar, dan hasil kerja mereka hampir semuanya benar. Media yang cocok dapat meberi gairah pada mereka untuk belajar dengan mudah, murah, dan menyenangkan. ” lanjut bu Etik lagi.
Ketika ditanya apa keuntungan menggunakan media belajar seperti ini, ia menjelaskan bahwa banyak keuntungan yang dapat diambil dari kegiatan ini, diantaranya ialah : Dengan Sumber belajar/ media pembelajaran seperti ini, anak-anak menjadi lebih aktif dan antusias dalam belajar.
Banyak pengalaman belajar yang dialami siswa, misalnya : mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, mengalami sendiri menghitung biaya belanjanya. Pengalaman lain yang didapat siswa , misalnya: Mengamati, Meneliti, Memilih, Bertanya-jawab, Berdiskusi , Saling menjelaskan, menghi tung, Menjumlah, Mengurang kan, Mempresentasikan, Menuliskan, Mengekspresi kan, Menyimpulkan, dan lain-lainnya.
Lebih merangsang dan menantang. Mudah dilaksanakan, baik dari sisi permainannya maupun pencarian medianya.
Murah, mudah, meriah.Begitulah jika guru mau lebih kreatif. Semua yang sulit menjadi mudah. Harapan kita semua, guru-guru di Gugus 01 Kertosono bisa lebih kreatif lagi.
SUMBER : psbgpangudiluhurkts.blogspot.com

DBE 2 Aceh Segera Terbitkan Dua Video Pembelajaran

Shooting video pembelajaran tentang fenomena alam dan simulasi model pembelajaran aktif di perguruan tinggi mulai dilakukan pada tanggal 25-26 Januari di DBE2 FKIP, dan 26-27 Januari di MIN Rukoh, Banda Aceh. Pemuatan film itu dilakukan oleh CV. Rumah Gambar dari Jakarta.

Sebelum pembuatan video itu dilakukan terlebih dulu dilakukan casting atau pemilihan pemeran dalam video itu sesuai dengan skenario. Skenario fenomena alam diulis oleh University Advisor DBE 2 Muslem Daud sedangkan video simulasi model pembelajaran aktif ditulis oleh Dr. Adlim M.Sc, dari DBE 2 FKIP.

Baca lebih lanjut