Mari….Kita Bergandengan Tangan Agar Perjalanan ini tidak Melelahkan Dan Menyenangkan

Perjalanan ke MI PUI (180310)

Panasnya terik matahari diselingi dengan hujan yang begitu deras setiap harinya, tidak mematahkan semangat tim pendamping yaitu: 2 MTT (Master Teacher Trainer) Jatibarang, 5 guru-guru PBS, 1 Pengawas Pendais dan 2 Pengawas TK/SD di gugus Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat untuk mendampingi rekan rekan sejawatnya dalam melakukan pembelajaran di kelas.

Apa yang istimewa dari kegiatan pendampingan paska pelatihan saat ini? Yaitu konsep pendampingan yang diterapkan kali ini adalah ”Pendampingan didalam Pendampingan”. Maksudnya adalah DLC (District Learning Coordinator) dan CPUM (Coordination Project Unit Manager) tidak hanya ikut melakukan kegiatan pendampingan tetapi juga melakukan observasi terhadap kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh tim pendamping dan guru-guru terdamping. Dalam hal ini, tim pendamping akan didampingi oleh DLC dan CPUM dalam melaksanakan setiap tahap kegiatan dalam pendampingan. Diharapkan bahwa tidak hanya guru-guru terdamping saja yang merasakan manfaat kegiatan pendampingan, tetapi juga tim pendamping sendiri. DLC dan CPUM akan menerapkan sistematika pola yang biasa diterapkan tim pendamping kepada guru-guru terdamping. DLC dan CPUM akan mengajak tim pendamping untuk menemukan sendiri kekuatan dan hal-hal yang perlu ditingkatkan sebagai seorang pendamping.

Pada hari Senin 15 Maret 2010, guru-guru terdamping, termasuk MTT, guru PBS, pengawas Pendais dan pengawas TK/SD berkumpul di PSBG untuk melakukan pra pendampingan. Satu orang pendamping mendampingi 2 guru. Mereka berdiskusi tentang RPP, Silabus dan media belajar – APM/G (Alat Peraga Murah / Gratis). Dengan semangat menjalin kemitraan, guru-guru kelas dipandu oleh tim pendamping untuk merencanakan pembelajaraan menjadi lebih PAKEM. Tidak terlihat adanya kecanggungan diantara mereka, jabatan pengawas atau senioritas bukanlah suatu kendala. Mereka bekerjasama demi suksesnya program pendampingan paska pelatihan mentoring guru PBS & Pengawas TK/SD tahap ke dua ini. Suasana akrab dan canda tawa mewarnai kegiatan pra pendampingan. Jadwal yang seharusnya selesai pukul 3 sore, mundur menjadi pukul 5 sore.

Kegiatan pendampingan selanjutnya adalah observasi kelas. Selama 3 hari (17-19 Maret 2010), tim pendamping membagi diri untuk melakukan pendampingan di kelas-kelas di beberapa sekolah. Umumnya ada 2 sekolah dalam satu hari yang mereka kunjungi dan melakukan kegiatan observasi di 2 kelas. Sehingga rata rata dalam satu hari mereka dapat mendampingi 4 orang guru dari 2 sekolah yang dikunjungi.

Setelah makan siang, sekitar pukul 14.00 wib, masing-masing tim pendamping melakukan paska pendampingan secara individu denga  guru yang didampinginya. Disini, tim pendamping terlihat terampil dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu para guru terdamping tersebut untuk menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan dirinya dalam mengajar khususnya yang berkaitan dalam proses pembelajaran, tanpa kesan tim pendamping menggurui atau menvonis. Tidak hanya itu, guru-guru pun diajak untuk menentukan sendiri resolusi-resolusi yang akan dibuat untuk meningkatkan kualitas mengajar.

Setelah tim pendamping melakukan paska pendampingan dengan guru-guru terdamping, maka tibalah saatnya DLC dan CPUM melakukan paska pendampingan terhadap tim pendamping. Dengan metode yang sama, para tim pendamping diajak untuk menemukan sendiri kekuatan dan hal hal yang perlu ditingkatkan sebagai pendamping. Program-program dalam Rencana Tindak lanjut adalah PR bagi mereka yang akan diimplementasikan pada saat kegiatan pendampingan rutin di sekolah-sekolah.

Ada satu hal yang menyentuh hati penulis, pada saat mengikuti pendampingan di MI Guppi (atau sekarang dikenal dengan MIN Lobener Lor) dan MI PUI. Tanpa perasaan takut menyeberang dengan rakit dalam keadaan arus sungai yang deras, tetap ceria-penuh canda tawa ditambah dengan iklim yang luar biasa panas

, mereka masih berkomitmen untuk melakukan pendampingan paska pelatihan mentoring guru PBS & Pengawas Tahap kedua ini di 2 sekolah (MI G

UPPI & PUI) yang terjauh lokasinya dibandingkan dengan sekolah-sekolah binaan DBE2

yang ada di Kabupaten Indramayu.

Jarak MI Guppi dari kota Kecamatan Jatibarang adalah kurang lebih 12 km atau sekitar 25 menit dengan sepeda motor. Sekolah ini terletak di desa terpencil yang bernama Lobener Lor , jalan menuju kesana cocok bagi yang suka berpetualang. Letak sekolah MI PUI pun tak kalah lebih jauh lagi, sekitar 25 km dari Kota Indramayu, atau sekitar 15 km dengan sepeda motor dan harus menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit yang ditarik dengan tali tambang. Letak MI PUI berada di desa Jatiswait Lor. Pada saat musim hujan begini, arus sungai begitu deras dan resiko tali tambang putus sangatlah besar.

MIN Lobener Lor (kls 5) 180310

Hal lain yang membuat penulis semakin terharu adalah semangat guru-guru yang akan didampingi. Guru-guru MI Guppi dan MI PUI tidak menganggap bahwa pendampingan adalah hal yang menakutkan, tetapi justru dinanti nanti. Bahkan mereka mematahkan image yang mengatakan guru terpencil kurang kreatif, masih konvensional dan mempunyai motivasi kecil dalam meningkatkan pembelajaran PAKEM.

Pak Edi Sependi, guru kelas V, MI PUI, dengan menggunakan APM sederhana mencoba mengajar mata pelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya. Yang menarik dalam pembelajaran ini adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh pak Edi, dengan menerapkan roleplay ”pergi melacong ke Saudi Arabia”, diharapkan pembelajaran dapat bernuansa PAKEM. Disini pak Edi berperan sebagai biro perjalanan untuk Saudi Arabia dan siswa siswa kelas V sebagai turis yang akan berpergian ke Saudi Arabia. Siswa dibagi ke dalam 4 kelompok:

  1. Kelompok Indonesia
  2. Kelompok Meksiko
  3. Kelompok  Kamerun
  4. Kelompok Hungaria
  1. Kelompok Australia

Pak Edi meletakan satu lembar informasi, yang berkaitan dengan sifat-sifat cahaya, di setiap meja (ada 5 meja dan setiap meja dianggap sebagai suatu kota yang akan dikunjungi oleh setiap kelompok, di Saudi Arabia). Setiap kelompok wajib berkunjung ke setiap kota dan mencari jawaban yang terdapat di LKS. Mereka dapat mencarinya melalui lembar informasi yang sudah diletakkan di atas meja. Adapun kota-kota yang wajib mereka kunjungi adalah sbb:

  1. Mekah         belajar tentanag OHP
  2. Riyad           belajar tentang Kamera
  3. Madinah       belajar tentang Periskop
  4. Mina            belajar tentang Mikrosof
  5. Musdalifah             belajar tentang Kaca Mata
  6. Jeddah        belajar tentang Teropong
  7. Shafa Marwa         belajar tentang Kaca Pembesar (Lup)

Dari permainan roleplay ini, terlihat sekali keaktifan siswa, khususnya pada saat mereka harus mempresentasikan dan mendiskusikan hasil temuan dan jawaban mereka kepada kelompok lain. Pak Edi pun memahami pentingnya bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. Dengan memberikan pertanyaan seperti ”Mengapa” dan ”Bagaimana”, siswa ditantang untuk melatih berpikir tingkat tinggi. Dalam memberikan penguatan pun, pak Edi tidak terkesan menyalahkan pendapat atau jawaban siswa, bahkan dengan gayanya yang menarik, pak Edi mendorong siswa-siswa yang lain untuk bersama-sama membuat kesimpulan tentang apa yang sudah mereka pelajari hari ini.

Tugas dan tanggung jawab seorang guru tidak lah mudah. Mereka dituntut harus selalu menjadi kepribadian yang ”sempurna”, tidak boleh membuat salah dan dianggap sebagai sumber informasi yang selalu ”benar”. Banyak dari orang tua yang menyerahkan sepenuhnya perkembangan intelektual anak-anaknya kepada guru. Dan guru lah yang biasanya menjadi orang terdepan untuk ”disalahkan” apabila terjadi sesuatu terhadap siswa-siswanya. Tapi ditengah posisi guru yang” maju kena, mundur kena”, sebaiknya kita sebagai orang-orang yang perduli terhadap kemajuan pendidikan anak bangsa, terus membantu para guru dan memberikan dorongan yang positif, khususnya kepada guru-guru di daerah terpencil, dengan mulai melibatkan diri dalam perkembangan pendidikan anak-anak kita. Berbagi tanggung jawab, selalu berkomunikasi dengan guru, mendiskusikan dan mencari solusi bersama-sama bila ada kesulitan. Sukses selalu untuk kinerja guru!

(Esther Roseanty Agustina – de Saint Vis, 220310)

4 Tanggapan

  1. Sebelumnya kenalan dulu ya kepada juragan-juragan DBE
    saya guru di gugus Ki Ageng Selo Tawangharjo Grobogan.
    Ceritanya sungguh mengesankan😀 sebuah perjuangan yang hebat sekali😉

  2. Terimaksih ibu Rose..Nama saya dicantumkan dalam artikel ini. Jadi ada kebanggaan tersendiri bagi saya pribadi. Terimakasih DBE 2 USAID yang telah memberi ilmu kepada saya. Sukses selalu buat Ibu Rose dan DBE 2 USAID

  3. Oya.. Saya ijin mengkopi artikel ini buat kenang-kenangan.

  4. Semoga dapat memotivasi kita semua dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, tak kenal lelah, tak kenal payah, tak kenal susah, tak kenal resah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: