Jangan Pernah Tidak “Membaca” (bagian 2)

Selektif membaca buku

Membaca buku dengan selektif dan memaknai bacaan dengan aktifitas tambahan

Mampu membaca tidak berarti secara otomatis terampil membaca. Terampil membaca tidak mungkin tercapai tanpa memiliki kemampuan membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, anak didik kita akan mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak hanya bagi pengajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga untuk mata pelajaran lain. Kegiatan membaca yang dilakukan akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya. Membaca bagi manusia hakikatnya merupakan kebutuhan mendasar seperti kebutuhan manusia akan papan, pangan, dan sandang.

Menurut Esther Kartika, salah seorang tenaga pendidik yang tinggal di Jakarta mengungkapkan bahwa sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar. Apabila seseorang secara rutin membaca dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik,sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat “membuka jendela dunia”, dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. Baca lebih lanjut

Iklan

Andai Ujian Nasional Tidak ada…..?

Hari-hari yang paling dramatis adalah hari di mana seluruh Indonesia diumumkan hasil ujian nasional. Pada hari itu terjadi 2 peristiwa drmatis yang sangat bertolak belakang dan terjadi pada satu tempat.

Satu peristiwa terjadi luapan kegembiraan yang teramat sangat pada siswa-siswa yang dinyatakan lulus ujian nasional. Bahkan mereka merelakan seluruh pakaian dan tubuhnya dicorat-coret pakai cat berwarna, yang mungkin itu sangat sulit dihilangkan dalam beberapa hari. Bahkan saking gembiraanya mereka melakukan konvoi dengan tanpa pengaman yang menyebabkan beberapa di anatara mereka harus kehilangan nyawa.

Peristiwa lain pada tempat yang sama banyak sekali siswa siswa yang pingsan karena saking sedihnya melihat kanyataan bahwa dirinya tidak lulus ujian nasional. Bahkan beberapa siswa ada yang stress sampai mengamuk tidak karuan. Yang lebih tragis lagi ada beberapa siswa harus mengakhiri hidupnya karena dinyatakan tidak lulus ujian.

Ujian Nasional yang selama ini menakutkan bagi guru dan siswa itu sebenarnya tetap kontroversial. satu pihak mengatakan bahwa Ujinan Nasional tetap harus berjalan, karena itulah satu-satunya tolok ukur atau standarisasi keberhasilan pembelajaran di sekolah yang masih bisa dipandang obyektif. Dengan demikian diharapkan semua sekolah menyelengarakan pendidikan minimal bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional, bahkan diharapkan bisa lebih dari pada itu yaitu kompetensi non akademik juga mampu dikuasai. Baca lebih lanjut