Dari Hari Anti Korupsi Sedunia, Unjukrasa Hingga Menyebarkan Virus Membaca (Bagian I dari 2 Tulisan)

Hari itu bertepatan dengan hari kamis tanggal 9 Desember 2010, kota Makassar diguyur hujan, hiruk pikuk kendaraan di depan Graha Pena Fajar, Jalan Urip Sumoharjo sebagaimana biasanya berjalan aman dan lancar, flyover tepat di depan kami berkantor di lantai 3 gedung itu masih sepi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sekelompok mahasiswa yang kampusnya tak jauh dari kantor, asap ban yang telah dibakar menambah suasana semakin tak karuan. Asap dari ban yang terbakar pertanda bahwa aksi unjukrasa mahasiswa di tengah jalan suhunya meningkat.

Di Jalan Urip Sumoharjo terletak gedung tempat kami berkantor, dan disepanjang jalan dan jembatan flyover di depannya merupakan tempat melakukan unjukrasa yang paling pavorit. Di jalan ini pula berdiri kokoh gedung DPRD Sulawesi Selatan, Kejaksaan Tinggi, Pengadilan Tinggi, ada Universitas 45 dan Universitas Muslim Indonesia, kantor Gubernur, jalan ini adalah jalan protokol jantung kota Makassar yang menghubungkan daerah di sekitarnya. Tak ayal, begitu unjuk rasa dimulai, dapat dipastikan akses jalan tersebut lumpuh, dan jalan menuju pusat kota Makassar tertutup.

Jam menunjukkan pukul 14.00, demonstran semakin terpusat dan bertambah dari berbagai penjuru kota, beberapa pleton pasukan anti huru-hara atau pengendali massa siap sedia dan bergegas dari depan kantor kami mendekati kerumunan demonstran di depan kampus Universitas 45 dan Universitas Muslim Indonesia. Jalan akses sudah ditutup, dan kendaran dialihkan, disaat bersamaan Ina Rahlina, Communication Cordinator menelpon penulis, untuk bergegas meninggalkan kantor menuju kendaraan yang akan mengangkut kami ke kabupaten Pinrang. “Halo…, Pak Amir!,dimana posisi sekarang?,cepat Pak…!, saya tak bisa menjemput di depan kantor, kita ke arah jalan tol, mobil sudah melewati brikade pasukan dan demonstran, Alhamdulillah Pak! kita lolos, cepat Pak!, saya tunggu sekarang!”, dengan suara lantang dan tergesa-gesa, Ina Rahlina memastikan bahwa mobil baru saja lolos dari kerumunan mahasiswa dan jebakan macet. Dengan cekatan penulis meninggalkan kantor, bergegas menuju jalan tol yang jaraknya kurang lebih 400 meter ke arah utara, sambil berlari-lari kecil menenteng tas jinjingan, sementara di tempat yang tak jauh dari jalan itu, suasana semakin tak terkendali.

Anak Indonesia bukan hanya cerdas, juga harus berkarakter cinta damai dan memiliki kepekaan sosial

Sepanjang perjalanan topik pembicaraan kami adalah unjukrasa yang katanya memperingati hari anti korupsi sedunia. Penulis mengurai betapa hebohnya jika di Makassar terjadi unjukrasa yang melibatkan oknum mahasiswa. Sebagai mantan aktifis yang pernah merasakan asam garam dunia mahasiswa di zaman orde baru, memori penulis langsung mengingat peristiwa demonstrasi helm di tahun 1987, yang waktu itu mendapat simpati berbagai kalangan. Sambil berdiskusi, kami berdua yang alumni dari perguruan tinggi yang sama dengan nama yang berbeda. Penulis adalah alumni IKIP Ujungpandang, dan Ina Rahlina alumni Universitas Negeri Makassar yang dahulu disebut IKIP Ujungpandang. Tentu kami hidup menjadi mahasiswa dengan zaman yang berbeda.

“Karakter bangsa sudah terdegradasi dan makna unjukrasa adik-adik mahasiswa saat ini sudah melenceng dari cita-cita perjuangan kaum muda intelektual bangsa”, ungkapku penuh keheranan. Ina Rahlina mengangguk-angguk seolah mendukung pernyataan penulis.
“Seandainya adik-adik mahasiswa menyalurkan aspirasinya dengan tertib, menggunakan tempat yang tidak mengganggu kepentingan umum, dengan cara yang lebih bermartabat, cerdas dalam berorasi dan cekatan menyalurkan aspirasinya tanpa anarkis, dapat saya pastikan masyarakat akan mendukung serta simpati terhadap apa yang diperjuangkan adik-adik”, sambil penulis menatap jalan tol menuju kabupaten Maros. “Betul Pak!” tegas Ina Rahlina.

“Makassar terkenal dengan kota unjukrasa!”, malu Pak!, apa yang dapat dibanggakan dengan unjukrasa anarkis dan berakhir bentrok, saya tidak tahu siapa yang keliru ini, kepolisiankah?, mahasiswa? atau aparat pemerintah? atau pihak kampus?”. Ah…., tidak usah kita saling menyalahkan, timpal Ina dengan nada kesal.
“Lihatlah, kendaraan dinas kepolisian atau kendaraan plat merah jika melewati kerumunan unjukrasa, dapat dipastikan babak belur diamuk massa!, belum lagi pos polisi atau anggota kepolisian bahkan masyarakat sipil tak luput jadi sasaran kebrutalan, kalau tak dapat disebut perkelahian. Bukankah kendaraan itu dibeli dari uang rakyat?”, Ina keheranan. Penulis tertawa cengengesan sembari mengutak-atik handphone untuk mendengarkan alunan musik.

Dari diskusi itu ada hal yang menarik dalam rangka mempersiapkan anak-anak Indonesia sejak dini untuk pembentukan karakter bangsa yang cinta damai. Selama ini anak-anak Indonesia diberi tontonan kekerasan, memorinya diisi dan didominasi dengan kemampuan mengingat semata sampai menjadi mahasiswa dijejali dengan kompotensi akademis dan kurang diberikan secara sistematis kompotensi kepribadian, sosial dan pedagogis. Tidak semua “jelek” di zaman orde baru yang memberikan bekal kepada murid-murid SD sampai mahasiswa dengan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), yang akhirnya dihilangkan dengan berbagai argumentasi. Penataran tersebut terlepas dari ada yang kontradiktif, terbukti memberikan kompotensi kepribadian dan sosial untuk pembentukan karakter bangsa yang saat ini kita kehilangan jati diri, panutan atau tokoh untuk diteladani.
Ide-ide seakan keluar dari memori kami, untuk mencoba membedah,mencari akar masalah kemudian membuat asumsi-asumsi pemecahan masalah yang menghadang bangsa Indonesia. Unjukrasa anarkis hanya salah satu helai dari beribu-ribu helai rambut yang kusut di negeri ini, yang berkaitan dengan kondisi roda pemerintahan serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

Program membaca di kelas dapat dijadikan wahana pendidikan karakter bangsa

Kami bekerja di lapangan pendidikan dasar yang notabene berkaitan dengan hayat hidup orang banyak terutama pembentukan karakter anak bangsa sejak dini sebagaimana cita-cita luhur dari tujuan pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang bertaqwa, cerdas,terampil, bermartabat dan memiliki kepribadian. Meanseat penulis tergugah untuk membentuk karakter bangsa melalui program membaca di kelas, dan kesempatan itu terbuka dan akan tersalurkan di pelatihan reflikasi program membaca dan program DBE2 lainnya.

Salah satu aktifitas peserta membuat piramida cerita

Kecamatan Lembang kabupaten Pinrang merupakan kecamatan yang berbatasan dengan propinsi Sulawesi Barat, dan sebagian wilayahnya adalah daerah tertinggal atau terpencil dan terepencar di lembah, lereng dan puncak gunung. Beberapa orang guru dari pegunungan harus menempuh jarak 150 kilometer dengan berjalan kaki, naik ojek sampai ke tempat pelatihan dengan menempuh perjalanan 1 hari 1 malam.

Semangat untuk mendapatkan ilmu yang berkaitan dengan pendidikan untuk anak didiknya di sekolah adalah sesuatu yang langka saat ini. Kisah  Debora, salah seorang guru kelas awal SD Negeri Sappiran yang harus membayar ojek Rp 150.000 dan menempuh perjalanan 150 kilometer adalah kisah nyata  guru yang penuh dedikasi patut diberi apresiasi. Tak menherankan jika reflikasi program membaca kali ini mendapat tempat dihati 86 guru dan kepala sekolah peserta pelatihan yang haus akan ilmu pengetahuan sebagai bekal memajukan pendidikan di sekolahnya (Bersambung).

Iklan

4 Tanggapan

  1. Menarik sekali ceritanya Pak Amir. Memang negeri kita benar-benar perlu sentuhan lebih melalui berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Program DBE 2 tentu menjadi salah satu jalan menuju hari esok yang lebih baik.

  2. Wah… menarik sekali tulisan ini.. Informatif, enak dibaca, dan… perlu. Jangan biarkan forum ini sepi, maju terus daeng..

  3. Terima kasih atas tulisannya Pak. Sangat menarik dan inspiratif. Semoga semangat menulis Bapak dapat menjalar ke rekan-rekan yang lain sehingga blog ini jadi lebih ramai. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: