Ice Breaking komunikasi

Dalam sebuah organisasi arau institusi komunikasi merupakan hal utama yang harus dijakankan dengan baik. Kesuksesan suatu program akan sangat tergantung dari komunikasi yang efektif dan lancar yang dilakukan oleh para pihak yang tergabung dalam organisasi itu.

Menafsirkan gambar

Menafsirkan gambar

Berikut ini adalah sebuah game sekaligus memberikan analogi bagaimana pengaruh komunikasi terhadap pencapaian tujuan organisasi/ institusi. Adapun langkah-langkah game-nya adalah sebagai berikut:

  1. Bentuklah peserta pelatihan menjadi kelompok-kelompok.
  2. Peserta diminta untuk memilih 1 orang yang paling pandai menggambar dan satu orang yang paling cerdas.
  3. Setiap orang yang ditunjuk sebagai ahli menggambar, dipersilahkan maju untuk menggambar sesuatu yang menunjukkan visi atau motivasi kelompok, misalnya menggambar matahari sebagai gambaran bahwa kelompok tersebut akan memberikan pencerahan kepada semua orang yang ada di dunia ini.
  4. Setelah selesai menggambar,  separoh ahli lukis dipersilahkan keluar ruangan. Sedangkan separoh yang lainnya dipersilahkan kembali kekelompok untuk menjelaskan apa makna gambar yang telah mereka buat tersebut.
  5. BACA SELENGKAPNYA DI SINI

“Siswa belajar Komputer bukan untuk jadi ahli komputer”

BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER

BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER

Banyak sekolah rame-rame membuat laboratorium komputer. Apalagi dengan adanya akreditasi sekolah, bahwa sekolah yang mempunyai lab. komputer akan mendapat nilai baik dalam penilaian akreditasi tersebut. Bahkan tidak jarang sekolah dengan berbagai upaya memaksakan diri untuk mengadakan  komputer di sekolah hanya sekedar untuk gengsi belaka.

Komputer yang sudah ada jarang digunakan untuk kegiatan siswa. Kalaupun digunakan hanyalah untuk belajar bagaimana “mengoperasikan” komputer sebagai alat ICT yang tidak tahu kemana arahnya setelah siswa mampu menguasai keterampilan itu.

Dengan membuat jadwal tertentu siswa dapat “kursus komputer” di lab. sekolah. Bukan tidak mungkin bahwa setiap siswa hanya bisa memegang komputer tersebut setiap 2 minggu sekali. Setiap kali “kursus komputer” siswa hanya dapat memperoleh kemanfaatan sebagai operator komputer.

Sangat disayangkan bahwa alat multimedia dengan fasilitas multifungsi tersebut hanya digunakan sebatas pada bagaimana cara mengetik di komputer. Padahal tujuan dari pembelajaran di sekolah adalah bagaimana kita mempersiapkan anak didik dengan berbagai kecakapan dan pengetahuan yang sebenarnya bisa kita peroleh dari komputer tersebut. Anak bisa memperoleh kecakapan untuk kontruksi mesin, anak bisa mengarang lagu, anak bisa membuat design rumah, merancang jembatan dan sebagainya dengan menggunakan komputer.

Paradigma yang sempit dari para guru akan penggunaan komputer hanya berorientasi bagaimana anak bisa syukur ahli mengoperasionalkan komputer. “Itu sangat mubadzir”. Siswa belajar komputer bukan untuk menjadi ahli komputer.

Namun seharusnya mereka belajar berbagai ilmu pengetahuan dan keterampingan dengan menggunakan komputer. Jadi komputer hanya sebagai media untuk mendapatkan berbagi ilmu pengetahuan. Komputer bukan obyek untuk pembelajaran itu sendiri. Bagaimana memanfaatkan komputer untuk pembelajaran silahkan lihat pada artikel saya sebelumnya.

Sekolah harus dipromosikan secara profesional

Andaikan sekolah itu merupakan usaha dagang, maka tidak berlebihan jika dikatakan oleh orang bahwa, “jika kita ingin untung besar, maka dirikanlah sekolah”. Bahkan ada Surat Kabar Kompas pernah mengatakan, “Jika anda ingin kaya, maka dirikanlah sekolah!”. Mengapa bisa demikian?

TOT LMS (Laporan Mutu Sekolah)Kita semua tahu bahwa semua sekolah dengan berbagai kondisi selalu laku, dengan bukti selalu ada muridnya. Bahkan sekolah yang dikelola asal-asalan tetep juga ada siswanya, walaupun mungkin jumlahnya sedikit. Apalagi kalau sekolah tersebut dikelola secara profesional, tentu akan sangat laku.

Pengelolaan sekolah yang profesional meliputi berbagai hal, mulai dari managerial sekolah, proses pembelajaran, evaluasi program dan tentu juga marketing. Bagaimana memasarkan sekolah? Inilah yang dibahas dalam TOT Laporan Mutu Sekolah (LMS) di Demak baru-baru saja.

Laporan mutu sekolah (LMS) merupakan salah satu cara untuk memasarkan sekolah. Dalam LMS dilaporkan berbagai informasi tentang sekolah, mulai dari data perkembangan siswa dari tahun-ke tahun, dana operasional sekolah, prestasi sekolah, prestasi guru dan siswa, yang semuanya itu dikemas secara simple dan menarik untuk dibaca.

Selama ini laporan sekolah selalu berupa tabel-tabel keuangan yang disajikan secara formal dan menjemukan. Namun dalam LMS sudah dikemas secara menarik dengan dilengkapi dengan gambar visual dan grafik-grafik full color yang tidak membosankan.  Apakah membuat laporan yang lengkap dengan gambar visual sulit?

Jawabannya tidak-tidak-tidak. Dalam pelatihan LMS semua data sebenarnya dinput secara manual dalam program exel. Data-data yang kita masukkan berupa angka-angka kuantitatif yang akan diolah secara otomatis oleh program exel yang sudah dicustom program oleh DBE sehingga output data sudah berupa gambar-gambar visual yang sangat menarik dan mudah dibaca.

Menjadi Guru Profesional Melalui Program DBE 2 di Kota Cilegon

Umi Kusmiyati, S.Pd (NIP 132 237 748)

Umi Kusmiyati, S.Pd (NIP 132 237 748)

Pertama kali saya mengikuti kegiatan DBE 2 tanggal 15-17 Mei 2006 di SDN Blok I, Cilegon, mengenai teknis menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (Profil sekolah, Program dan RAPBS). Kegiatan ini membantu saya bagaimana membuat program sekolah dan menyusun RKTS.

Selanjutnya, saya selalu terlibat dalam undangan yang diselenggarkan DBE 2. Saya senang karena saya memperoleh materi seperti yang pernah saya pelajari sewaktu saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dulu. Misalnya, saya pernah hadir dalam kegiatan Workshop tim sekolah (STW) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) yang diselenggarakan beberapa tahun lalu yang menjadi sarana diskusi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan pembelajaran di kelas juga metode pendekatan aktif, kreatif dan aktraktif bagi siswa.

Pada tanggal 19-21 Agustus 2008, saya diikutsertakan kembali dalam Pelatihan DALI (Developing Active Learning with ICT) di PSBG Ki Hadjar Dewantara. Menurut saya, kegiatan ini menuntut guru untuk merancang pembelajaran dengan menggunakan seperangkat komputer. Alhasil, saya sudah menerapkan program ini dalam pembelajaran di kelas saya. Hasilnya, siswa sangat antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam belajar. Selain itu, hal ini menyenangkan bagi siswa sehingga siswa lebih terampil lagi dalam belajar.

Baca lebih lanjut

MIS Yapida Tambi Mengadakan Pelatihan Intel Teach : Participant Teachers

Demam computer di era globalisasi ini sudah sangat terasa pada semua aspek kehidupan, dan yang tak kalah serunya merasuk di dunia pendidikan khususnya guru. Gugus Anyelir salah satunya, Gugus Binaan DBE2 USAID ini telah diberikan Pelatihan Intel Teach bagi Guru Pelatih. Dan hasilnya memuaskan, dari hasil yang telah didapat selama pelatihan tersebut Guru Pelatih diharuskan untuk menularkan apa yang diperolehnya kepada Guru Partisipasi (participant teachers).

Master Teacher sedang mendampingi Participant Teacher

MIS Yapida Tambi sendiri, dimana guru yang diikutkan dalam pelatihan itu sudah siap untuk menularkan ilmunya. Dan pada tanggal 18 November 2008 yang lalu telah dimulai pembukaan Pelatihan Intel Teach: Participant Teachers. Pelatihan dibuka oleh kepala Madrasah dan juga dihadiri oleh Senior MTT Gugus Anyelir yakni bapak Basuki, S.Pd. pelaksanaan kegiatan ini selama 12 hari (Minggu III dan IV November dan Minggu I Desember) dengan waktu kegiatan setelah KBM selesai.

Baca lebih lanjut