Murah Tetapi Bukan Murahan

Handayani Rasli, beraksi di depan peserta dengan APM "Mesin Hitung"

Handayani Rasli, beraksi di depan peserta dengan APM "Mesin Hitung"

Guru memiliki potensi yang luar biasa jika diasah dan digali terus-menerus. Potensi yang dimiliiki guru yang berkaitan kompetensi proses pembelajaran yang berkualitas dengan menggunaklan alat peraga adalah mutlak dimiliki. Setidaknya potensi yang dimiliki memberikan makna bagi nafas pembelajaran di sekolah. Kondisi Negara yang diterpa berbagai problematik memberikan dampak terhadap sendi-sendi kehidupan,tak terkecuali di dunia pendidikan.

Anggaran negara yang terbatas dan belum sepenuhnya memenuhi keinginan besar dari bangsa ini mewujudkan pendidikan berkualitas, tidak serta-merta menyurutkan semangat untuk tetap eksis di tengah-tengah krisis yang melanda berbagai negara. Tidak perlu berpikir jauh menrawang wujudkan dengan aksi di lapangan. Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) “Karya Mandiri” Guru Gugus 1 Mamajang, sebagai ujung tombak dan wadah mengembangkan dan mewujudkan kualitas pembelajaran, mengasah dan memberi spirit bagi guru-guru binaan DBE2, menguji talenta mereka dalam membuat Alat Peraga Murah (APM) melalui ajang lomba kreatifitas APM.

Ajang lomba yang  diselenggarakan tanggal 7 Pebruari 2009, digagas oleh pengurus PSBG yang diawaki Muhammad Kadri Karim yang didampingi MTT 2 Mamajang, Samsuddin memberikan pencerahan bagi sesama guru di tengah-tengah aktifitas keseharian memajukan anak bangsa. Tujuan ajang lomba APM adalah memberikan motivasi atau spirit bagi insan pendidik khususnya di Gugus 1 Mamajang menyalurkan talenta untuk mewujudkan APM yang benar-benar murah tapi bukan murahan untuk mendukung pembelajaran.

“Kriteria penilaian yang digunakan adalah APM itu harus orsinil atau asli sesuai dengan Kompotensi Dasar Mata Pelajaran di SD, alat dan bahannya sederhana,murah, dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar, dapat meningkatkan minat murid dan guru dalam pembelajaran, yang diharapkan mampu mendongkrak kualitas pendidikan secara perlahan tapi pasti,” demikian sepenggal ungkapan Samsuddin dalam sambutan pembukaan ajang lomba.

Salah satu karya guru diantara 13 peserta lomba, adalah Handayani Rasli, guru SD Inpres Bertingkat Mamajang III dengan alat peraga mesin hitung, membuat sebagian undangan dan peserta terpukau. Mesin hitung yang terbuat dari kardus bekas, gelas atau botol akua bekas, kertas bekas dipoles kertas marmer yang tidak mahal dan dapat dijangkau, hanya bermodalkan Rp 3000, karya APM terwujud dengan sangat estetika dan bernilai edukatif tinggi. Dengan sembringah Handayani Rasli mempresentasikan hasil karyanya di depan dewan juru independent, yang berasal dari luar gugus.

Wujud partisipasi PSBG “Karya Mandiri Guru”, hasil karya guru dalam ajang lomba APM, akan ditulis di blog ini, setiap pekan. Semoga dapat memberikan entry point bagi kemajuan pendidikan di tanah air,khususnya di level; Sekolah Dasar.

Satu Tanggapan

  1. gimna cra bikinnya???/
    krn pengetahuan ini sangat brmanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: