NACTI 2011, Lomba Guru untuk Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran

National Competition of Technology Integration 2011

Bagi para pendidik di Indonesia, ada ajang Lomba Guru yang patut Anda ikuti. Kegiatan lomba yang diselenggarakan oleh EduPartner Institute dan Pazia Shop ini diberi nama NACTI (National Competition of Technology Integration). Kompetisi/lomba dengan tema “Fun and Creative with Information and Communication Technology in Your Classroom” ini melombakan karya kreatif guru dalam membuat media pembelajaran berbasis multimedia.

Tujuan dari kegiatan ini adalah : 1). melombakan karya kreatif tenaga pendidik berupa media pembelajaran dalam bentuk PowerPoint, baik yang menggunakan fitur Mouse Mischief atau tanpa menggunakan plug-ins ini, 2). mendorong inovasi dan kreasi guru dalam pemanfaatan perangkat TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam jumlah terbatas untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah, dan 3). Mempromosikan strategi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan memanfaatkan TIK di kalangan tenaga pendidik. Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Hari Anti Korupsi Sedunia, Unjukrasa Hingga Menyebarkan Virus Membaca (Bagian I dari 2 Tulisan)

Hari itu bertepatan dengan hari kamis tanggal 9 Desember 2010, kota Makassar diguyur hujan, hiruk pikuk kendaraan di depan Graha Pena Fajar, Jalan Urip Sumoharjo sebagaimana biasanya berjalan aman dan lancar, flyover tepat di depan kami berkantor di lantai 3 gedung itu masih sepi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sekelompok mahasiswa yang kampusnya tak jauh dari kantor, asap ban yang telah dibakar menambah suasana semakin tak karuan. Asap dari ban yang terbakar pertanda bahwa aksi unjukrasa mahasiswa di tengah jalan suhunya meningkat. Baca lebih lanjut

Jangan Pernah Tidak “Membaca” (bagian 3-selesai)

Program membaca telah diluncurkan oleh DBE2-project, dan telah mengirimkan 600 buku bacaan tambahan ke 1067 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah yang tersebar di 7 propinsi di Indonesia dan melibatkan orang tua untuk berpartisipasi dan mendukung kegiatan membaca di rumah.

Siswa secara rutin akan membawa buku bacaan ke rumah untuk dibaca bersama orang tua,adik dan kakaknya, dan menumbuhkan minat baca yang berkesinambungan di sekolah dan rumah. Lebih dari 3000 kelas telah memiliki pojok membaca atau perpustakaan kelas dan koleksi buku-buku yang tersedia dan dinikmati puluhan ribu siswa SD/MI, namun demikian jumlah buku dan siswa yang didorong untuk membaca terbilang kecil dibandingkan jumlah siswa dan sekolah di seluruh Indonesia saat ini. Efek yang ditimbulkan oleh reading program adalah menyebarnya virus membaca ke seluruh kalangan yang diekspektasi akan menyebar ke berbagai sekolah non-binaan melalui progran transisi,reflikasi maupun desiminasi.

Tantangan terbesar dalam meningkatkan tingkat baca-tulis tampaknya terletak pada kurangnya bahan bacaan yang tepat, baik di sekolah maupun di rumah, dan kurangnya jumlah buku yang tersedia bagi anak di kelas. Kalaupun kemiskinan bukan merupakan faktor penentu utama kesiapan baca-tulis, Lyster (1998, dalam pers) menemukan bahwa pendidikan ibu merupakan prediktor penting untuk perkembangan membaca, meskipun dengan memperhitungkan faktor IQ.

Bagaimanakah ibu yang lebih berpendidikan berkomunikasi secara linguistik dengan anaknya dibanding ibu yang kurang berpendidikan? Apakah mereka membacakan buku untuk anaknya lebih sering atau dengan cara yang berbeda dari ibu yang kurang berpendidikan?. Apakah pencegahan gangguan membaca sebaiknya dimulai secara tidak langsung dengan mendidik orang tua?.

Penelitian oleh Whitehurst, Epstein, Angell, Payne, Crone ddan Fischel (1994) menunjukkan bahwa mendidik orang tua dari masyarakat sosio-ekonomi rendah tentang cara berinteraksi dengan anaknya pada saat mereka membacakan untuk mereka, berdampak positif terhadap perkembangan baca-tulis anak. Dalam penelitian ini orang tua diminta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya “apa”, “mengapa”, “di mana” dan “kapan” pada saat sedang membacakan, untuk membantu anak memahami isi teks. Bahkan jika perkembangan membaca sejauh tertentu tergantung pada faktor biologi dan genetik, membaca adalah kemampuan yang sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Jika bahasa rumah berbeda dari bahasa yang dipergunakan ketika anak belajar membaca dan menulis, anak kemungkinan akan menghadapi banyak masalah. Oleh karena itu, jika seorang anak tidak dapat belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya atau jika bahasa ibunya tidak mempunyai bahasa tulis, bahasa pengantar harus diajarkan kepada anak secara intensif di samping mengajarinya membaca dan menulis. Situasi ini tampaknya merupakan realitas yang ada di daerah tertentu di Indonesia, meskipun anak diharapkan belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya.

Program membaca selain merupakan tugas nasional yang harus didukung oleh pemerintah daerah agar program ini menjadi lebih strong melalui sebuah gerakan yang dimulai dari sekolah dan rumah. Sebuah kelas dan koleksi buku yang kaya dan beragam akan memperluas bukan saja kemampuan membaca siswanya, namun akan memperluas dunia mereka (Fountas dan Pinnell, 2001). Pemerintah Kota Makassar yang dinahkodai Ilham Arief Sirajuddin dapat menjadi contoh yang telah membuktikan komitmennya untuk menjadikan membaca sebagai program utama dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui “Gerakan Makassar Gemar Membaca”. Jangan kita tidak membaca walau semenit dalam sehari, kalau tidak ingin ketinggalan informasi, pengetahuan dan wawasan.

Tetap semangat dan teruslah membaca!.

Meningkatkan minat baca siswa dimulai sejak usia dini dengan beragam bacaan yang dapat membantu anak menambah wawasan

Gerakan Makassar Gemar Membaca yang dicanangkan Walikota Makassar gayung bersambut dengan program DBE2

Jangan Pernah Tidak “Membaca” (bagian 2)

Selektif membaca buku

Membaca buku dengan selektif dan memaknai bacaan dengan aktifitas tambahan

Mampu membaca tidak berarti secara otomatis terampil membaca. Terampil membaca tidak mungkin tercapai tanpa memiliki kemampuan membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, anak didik kita akan mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak hanya bagi pengajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga untuk mata pelajaran lain. Kegiatan membaca yang dilakukan akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya. Membaca bagi manusia hakikatnya merupakan kebutuhan mendasar seperti kebutuhan manusia akan papan, pangan, dan sandang.

Menurut Esther Kartika, salah seorang tenaga pendidik yang tinggal di Jakarta mengungkapkan bahwa sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar. Apabila seseorang secara rutin membaca dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik,sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat “membuka jendela dunia”, dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. Baca lebih lanjut

Andai Ujian Nasional Tidak ada…..?

Hari-hari yang paling dramatis adalah hari di mana seluruh Indonesia diumumkan hasil ujian nasional. Pada hari itu terjadi 2 peristiwa drmatis yang sangat bertolak belakang dan terjadi pada satu tempat.

Satu peristiwa terjadi luapan kegembiraan yang teramat sangat pada siswa-siswa yang dinyatakan lulus ujian nasional. Bahkan mereka merelakan seluruh pakaian dan tubuhnya dicorat-coret pakai cat berwarna, yang mungkin itu sangat sulit dihilangkan dalam beberapa hari. Bahkan saking gembiraanya mereka melakukan konvoi dengan tanpa pengaman yang menyebabkan beberapa di anatara mereka harus kehilangan nyawa.

Peristiwa lain pada tempat yang sama banyak sekali siswa siswa yang pingsan karena saking sedihnya melihat kanyataan bahwa dirinya tidak lulus ujian nasional. Bahkan beberapa siswa ada yang stress sampai mengamuk tidak karuan. Yang lebih tragis lagi ada beberapa siswa harus mengakhiri hidupnya karena dinyatakan tidak lulus ujian.

Ujian Nasional yang selama ini menakutkan bagi guru dan siswa itu sebenarnya tetap kontroversial. satu pihak mengatakan bahwa Ujinan Nasional tetap harus berjalan, karena itulah satu-satunya tolok ukur atau standarisasi keberhasilan pembelajaran di sekolah yang masih bisa dipandang obyektif. Dengan demikian diharapkan semua sekolah menyelengarakan pendidikan minimal bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional, bahkan diharapkan bisa lebih dari pada itu yaitu kompetensi non akademik juga mampu dikuasai. Baca lebih lanjut

Diklat PGRI Indramayu “Dengan Semangat Juang dan Etos Kerja Guru Indramayu Siap Mencerdaskan Bangsa Menuju Indramayu Remaja”

Motto Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Indramayu diatas ini sangatlah tepat, dengan semangat terus menyala layaknya obor, tim PGRI Kabupaten Indramayu selalu memotivasi guru-guru untuk mendapatkan ilmu / pengetahuan yang terkini sehingga guru-guru di Kabupaten Indramayu tidak tertinggal informasi di dalam bidang pendidikan. Hali ini dilakukan oleh PGRI Kabupaten Indramayu dengan  cara memberikan pelatihan-pelatihan, salah satunya adalah pelatihan Pembelajaran Aktif untuk 837 Guru Kelas Rendah (1-3) dari 31 Kecamatan yang ada di Kabupaten Indramayu.

Bertempat di Gedung Aula Bumi Patra Pertamina, Pelatihan diselenggarakan pada hari Sabtu 6 Maret 2010, dimulai pukul 08.00 wib dan berakhir pukul 17.00 wib. Fasilitator yang membantu tim PGRI Kabupaten Indramayu adalah  Esther Roseanty Agustina (Coordination Project Unit Manager – DBE2 Jawa Barat & Banten) dan Iman Sukiman (DLC Bogor & Tangerang – DBE2 Jawa Barat & Banten). Baca lebih lanjut

Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing

Itulah moto yang tepat untuk menggambarkan kegiatan pendampingan paska pelatihan guru PBS & Pengawas tahap 2 ini di gugus Tangerang dan Karawaci, Kota Tangerang. Udara yang begitu panas, arus lalu lintas yang padat dan tidak teratur, tidak menyurutkan semangat tim pendamping dari masing masing gugus, yang terdiri dari: 2 MTT (Master Teacher Trainer) , 5 guru-guru PBS, 1 Pengawas Pendais dan 2 Pengawas TK/SD, untuk mendampingi rekan rekan sejawatnya dalam melakukan pembelajaran di kelas.

Apa yang istimewa dari kegiatan pendampingan paska pelatihan saat ini? Yaitu konsep pendampingan yang diterapkan kali ini adalah ”Pendampingan didalam Pendampingan”. Maksudnya adalah DLC (District Learning Coordinator) dan CPUM (Coordination Project Unit Manager) tidak hanya ikut melakukan kegiatan pendampingan tetapi juga melakukan observasi terhadap kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh tim pendamping dan guru-guru terdamping. Dalam hal ini, tim pendamping akan didampingi oleh DLC dan CPUM dalam melaksanakan setiap tahap kegiatan dalam pendampingan. Diharapkan bahwa tidak hanya guru-guru terdamping saja yang merasakan manfaat kegiatan pendampingan, tetapi juga tim pendamping sendiri. DLC dan CPUM akan menerapkan sistematika pola yang biasa diterapkan tim pendamping kepada guru-guru terdamping. DLC dan CPUM akan mengajak tim pendamping untuk menemukan sendiri kekuatan dan hal-hal yang perlu ditingkatkan sebagai seorang pendamping.

Selama kunjungan observasi 4 hari (6-9 April 2010) di gugus Tangerang dan , Karawaci, observer dibuat kagum dengan suasana yang penuh canda tawa dan kekeluargaan diantara tim pendamping dan guru-guru terdamping, selama proses pendampingan berlangsung. Tidak ada kesan ”saya lebih senior dari kamu” atau ”saya lebih pintar dari kamu.” Sikap yang sangat kooperatif baik dari tim pendamping maupun guru guru yang didampingi, membuat kegiatan pendampingan menjadi sangat menyenangkan.

Baca lebih lanjut