New Learning Environment: Electronic & Mobile-Learning

Jakarta, 4-6 Fabuari 201

Png Bee Hin

Sebuah perkembangan baru di dunia pendidikan yang sangat luar biasa dalam pemanfaatan teknologi informasi. Setelah sebelumnya dunia pendidikan dibuat terang dengan dengan e-learning, kini ada media yang sangat canggih, murah dan sebenarnya sudah dimiliki oleh masyarakat luas sejak decade 1990-an, yaitu handphone yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran. Begitulah kata Png Bee Hin CEO Learning and Development Reasources (LDR) Pte Ltd dari Singapura dalam acara ITCEE (International Teachers Conference and Education Exhibition)

Perkembangan Handphone sekarang demikian cepat, sehingga yang dulunya hanya merupakan alat “panggil” sekarang menjadi teknologi multimedia dengan banyak fasilitas. Mulai dari fasilitas telephone, kamera, radio, music, bahkan juga dilengkapi dengan fasilitas internet dan GPS. Perkembangan handphone yg demikian canggih sehingga orang sering menyebut dengan “smart phone”, karena piranti  ini demikian lengkap dan cerdas untuk mencukupi kebutuhan informasi dan hiburan bagi panggunanya.

Kehadiran smart phone ini   lambat atau cepat akan segera menggantikan piranti lama yaitu desktop atau bahkan laptop. Handphone memiliki banyak keunggulan disbanding computer. Handphone lebih portable dan mudah dibawa ke mana saja. Pirantinya lebih lengkap, karena bisa menghadirkan kamera dan juga layanan internet mobil yang bisa digunakan untuk mengakses informasi dari mana saja dan kapan saja. Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Hari Anti Korupsi Sedunia, Unjukrasa, Hingga Menyebarkan Virus Membaca (Bagian 2-Selesai)

“Siapa yang bersungguh-sungguh akan meraih kesuksesan”

Tulisan pada bagian kedua ini sengaja penulis sampaikan setelah final sepakbola piala AFF (Asean Football Federation). Pertandingan final yang begitu dramatis dan menegangkan serta menyita perhatian seantero nusantara dan negara jiran, berakhir dengan melahirkan juara baru. Piala yang merupakan lambang supremasi sepakbola tertinggi kawasan Asia Tenggara digengaman kesebelasan Malaysia. Lalu apa hubungan antara sepakbola  dengan hari anti korupsi, demonstrasi dan menyebarkan virus membaca?.

Marilah kita menengok kebelakang, saat-saat Tim Nasional (Timnas) kita dan para pendukung yang begitu over euphoria dan confident ketika melibas lawan-lawannya di babak penyisihan di awal dan pertengahan bulan Desember yang lalu. Hampir di setiap kesempatan orang bercerita tentang Timnas, apatahlagi di media massa begitu gencar informasi kesuksesan Timnas di awal kompetisi itu, mulai berita olahraga sampai infotaiment tak henti-hentinya memanfaatkan momentum itu sebagi headline atau berita utama dan tak pelak lagi sepakbola membuktikan dirinya sebagai olahraga massal bercampur-aduk dengan politik (pro-kontra). Baca lebih lanjut

DALI Diminati (Juga) oleh Guru SLTP

Pelan namun pasti, penyebaran virus Developing Active Learning with ICTs atau yang sering disebut DALI di Jawa Tengah mulai meluas. Pada tanggal 22-23 November 2010 DALI didiseminasikan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus  untuk 100 guru SD di gugus non binaan DBE 2. Kemudian, pada tanggal 1-3 Desember ini, Dinas Pendidikan (Disdik) Blora juga meminta DBE 2 untuk melatihkan pembelajaran berbasis TIK. Sudah barang tentu, DALI menjadi paket yang diberikan kepada mereka.

Mengapa pelatihan ini diadakan? Disdik Blora memandang pentingnya seluruh guru di Blora, baik tingkat dasar maupun menengah, untuk menguasai  Teknologi Informasi dan Komunikasi atau TIK.  “Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi saat ini, mau tidak mau guru harus mulai berbenah diri dengan mempersiapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang TIK”, demikian pernyataan Winoto, SH., Kepala Disdik Blora dalam sambutannya di pembukaan pelatihan. Lebih dari itu, kepala dinas berharap dengan semakin meningkatnya perhatian pemerintah pada kesejahteraan guru, maka konsekuensinya guru  harus terus berbenah meningkatkan profesionalitasnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Blora, Winoto, S.H sedang memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Blora, Winoto, S.H sedang memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan

Yang menarik, peserta pelatihan kali ini adalah guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang berjumlah 75 guru. Mereka terdiri dari guru mata pelajaran IPA dan Matematika. Bertindak sebagai fasilitator dalam pelatihan ini adalah, Carwoto, ICT Coordinator dan saya sendiri, Khusnul Aflah, selaku ICT Assistant DBE 2 Jawa Tengah.””

Baca lebih lanjut

Kemanfaatan PSBG setelah DBE 2 “Pergi”

Hampir seluruh Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) di Jawa Tengah sudah secara resmi diserahkan ke pemangku kepentingan, yakni Dinas Pendidikan. Di Kudus, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus  sudah menerima penyerahan PSBG ini pada tanggal 29 September 2010. Secara perlahan, Disdikpora mulai memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh PSBG sebagai pusat pertemuan, informasi, produksi dan pengembangan profesional guru.

Hal ini bisa terlihat dengan dimanfaatkannya dua PSBG sekaligus sebagai tempat pelatihan bagi guru-guru se-kabupaten, tentu selain guru binaan DBE 2. Seperti yang terjadi pada tanggal 22-23 November 2010, PSBG Ki Hajar Dewantoro PSBG Sukun menjadi tempat diselenggarakannya pelatihan Developing Active Learning with ICTs (DALI) untuk 100 guru SD di gugus non binaan DBE 2.

Keberadaan PSBG yang sudah dilengkapi dengan banyak alat peraga, sumber belajar serta perangkat TIK sangat bermanfaat bagi Dinas Pendidikan. “Disdikpora sangat terbantu dengan keberadaan PSBG ini. Kami sekarang tidak bingung  untuk sewa gedung sebagai tempat pelatihan, karena sudah ada PSBG yang sangat komplit perangkatnya” demikian kata Bambang Gunadi, Kasi TTNT Disdikpora Kudus yang juga Ketua Panitia Penyelenggara.

Teleconference saat Pembukaan Pelatihan

Dengan memanfaatkan  perangkat internet dan TIK yang ada di PSBG, pelaksanaan pembukaan pelatihan DALI di dua PSBG ini dilakukan secara jarak jauh. Adapun pembukaan berlangsung di PSBG Ki Hajar Dewantoro, sedangkan peserta di PSBG Sukun melihat dan mendengarkan melalui Teleconference. Sebagai apresiasi kepada DBE 2, acara pembukaan menghadirkan Vince P. Costa, PC DBE 2 Jawa Tengah. Selain itu, acara pembukaan juga dihadiri oleh Didik Hartoko, Kabid Dikdas Disdikpora Kudus.

Acara pembukaan pelatihan yang dilakukan secara Teleconference

Acara pembukaan pelatihan yang dilakukan secara Teleconference

Baca lebih lanjut

Guru Mitra DBE2 Berhasil Mendapatkan Penghargaan Pada Ajang Kompetisi Video Pembelajaran Tingkat Nasional

 

Para guru mitra DBE2 menerima penghargaan video terbaik pada acara Dies Natalies ke-1 STKIP Kebangkitan Nasional di Jakarta

 

Inisiatif dan kreatifitas dari para guru di SDN Tangkisan Pos, Jogonalan, Klaten akhirnya membuahkan hasil manis. Sekolah mitra DBE2 ini merupakan salah satu sekolah yang mengikuti program pendampingan berbasis sekolah untuk menerapkan pembelajaran aktif dengan satu komputer yang diselenggarakan DBE2 USAID beberapa waktu yang lalu. Lewat program pendampingan dan program DBE2 USAID lain, para guru di gugus berhasil mendapatkan kompetensi baru di bidang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sehingga mampu untuk memproduksi bahan ajar video (video pembelajaran) yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar.

Setelah mendapatkan informasi tentang kompetisi video pembelajaran tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Sampoerna School of Education bekerja sama dengan Education Development Center dan Microsoft Partner in Learning, yang diumumkan juga dalam website ini, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut serta dan mulai memproduksi video pembelajaran dengan tangan mereka sendiri. Dengan memanfaatkan dukungan dari Pusat Sumber Belajar Gugus berupa handycam yang ada disana, mereka memproduksi sendiri video pembelajaran di sekolah tanpa bantuan seorang profesionalpun. Jadi hasil karya ini murni diproduksi oleh para guru yang ada di sekolah. Baca lebih lanjut

Jangan Pernah Tidak “Membaca” (bagian 3-selesai)

Program membaca telah diluncurkan oleh DBE2-project, dan telah mengirimkan 600 buku bacaan tambahan ke 1067 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah yang tersebar di 7 propinsi di Indonesia dan melibatkan orang tua untuk berpartisipasi dan mendukung kegiatan membaca di rumah.

Siswa secara rutin akan membawa buku bacaan ke rumah untuk dibaca bersama orang tua,adik dan kakaknya, dan menumbuhkan minat baca yang berkesinambungan di sekolah dan rumah. Lebih dari 3000 kelas telah memiliki pojok membaca atau perpustakaan kelas dan koleksi buku-buku yang tersedia dan dinikmati puluhan ribu siswa SD/MI, namun demikian jumlah buku dan siswa yang didorong untuk membaca terbilang kecil dibandingkan jumlah siswa dan sekolah di seluruh Indonesia saat ini. Efek yang ditimbulkan oleh reading program adalah menyebarnya virus membaca ke seluruh kalangan yang diekspektasi akan menyebar ke berbagai sekolah non-binaan melalui progran transisi,reflikasi maupun desiminasi.

Tantangan terbesar dalam meningkatkan tingkat baca-tulis tampaknya terletak pada kurangnya bahan bacaan yang tepat, baik di sekolah maupun di rumah, dan kurangnya jumlah buku yang tersedia bagi anak di kelas. Kalaupun kemiskinan bukan merupakan faktor penentu utama kesiapan baca-tulis, Lyster (1998, dalam pers) menemukan bahwa pendidikan ibu merupakan prediktor penting untuk perkembangan membaca, meskipun dengan memperhitungkan faktor IQ.

Bagaimanakah ibu yang lebih berpendidikan berkomunikasi secara linguistik dengan anaknya dibanding ibu yang kurang berpendidikan? Apakah mereka membacakan buku untuk anaknya lebih sering atau dengan cara yang berbeda dari ibu yang kurang berpendidikan?. Apakah pencegahan gangguan membaca sebaiknya dimulai secara tidak langsung dengan mendidik orang tua?.

Penelitian oleh Whitehurst, Epstein, Angell, Payne, Crone ddan Fischel (1994) menunjukkan bahwa mendidik orang tua dari masyarakat sosio-ekonomi rendah tentang cara berinteraksi dengan anaknya pada saat mereka membacakan untuk mereka, berdampak positif terhadap perkembangan baca-tulis anak. Dalam penelitian ini orang tua diminta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya “apa”, “mengapa”, “di mana” dan “kapan” pada saat sedang membacakan, untuk membantu anak memahami isi teks. Bahkan jika perkembangan membaca sejauh tertentu tergantung pada faktor biologi dan genetik, membaca adalah kemampuan yang sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Jika bahasa rumah berbeda dari bahasa yang dipergunakan ketika anak belajar membaca dan menulis, anak kemungkinan akan menghadapi banyak masalah. Oleh karena itu, jika seorang anak tidak dapat belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya atau jika bahasa ibunya tidak mempunyai bahasa tulis, bahasa pengantar harus diajarkan kepada anak secara intensif di samping mengajarinya membaca dan menulis. Situasi ini tampaknya merupakan realitas yang ada di daerah tertentu di Indonesia, meskipun anak diharapkan belajar membaca dan menulis dalam bahasa ibunya.

Program membaca selain merupakan tugas nasional yang harus didukung oleh pemerintah daerah agar program ini menjadi lebih strong melalui sebuah gerakan yang dimulai dari sekolah dan rumah. Sebuah kelas dan koleksi buku yang kaya dan beragam akan memperluas bukan saja kemampuan membaca siswanya, namun akan memperluas dunia mereka (Fountas dan Pinnell, 2001). Pemerintah Kota Makassar yang dinahkodai Ilham Arief Sirajuddin dapat menjadi contoh yang telah membuktikan komitmennya untuk menjadikan membaca sebagai program utama dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui “Gerakan Makassar Gemar Membaca”. Jangan kita tidak membaca walau semenit dalam sehari, kalau tidak ingin ketinggalan informasi, pengetahuan dan wawasan.

Tetap semangat dan teruslah membaca!.

Meningkatkan minat baca siswa dimulai sejak usia dini dengan beragam bacaan yang dapat membantu anak menambah wawasan

Gerakan Makassar Gemar Membaca yang dicanangkan Walikota Makassar gayung bersambut dengan program DBE2

Jangan Pernah Tidak “Membaca” (bagian 2)

Selektif membaca buku

Membaca buku dengan selektif dan memaknai bacaan dengan aktifitas tambahan

Mampu membaca tidak berarti secara otomatis terampil membaca. Terampil membaca tidak mungkin tercapai tanpa memiliki kemampuan membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, anak didik kita akan mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak hanya bagi pengajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga untuk mata pelajaran lain. Kegiatan membaca yang dilakukan akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya. Membaca bagi manusia hakikatnya merupakan kebutuhan mendasar seperti kebutuhan manusia akan papan, pangan, dan sandang.

Menurut Esther Kartika, salah seorang tenaga pendidik yang tinggal di Jakarta mengungkapkan bahwa sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar. Apabila seseorang secara rutin membaca dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik,sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat “membuka jendela dunia”, dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. Baca lebih lanjut